Sabtu, 19 November 2016

Review Fantastic Beasts and Where to Find Them


Fantastic Beast and Where to Find Them adalah film terbaru dari Warner Bros, yang masih satu universe dengan film film dari seri Harry Potter. Film yang disutradarai oleh Dvid Yates ini dirilis di Indonesia pada tanggal 16 November 2016 lalu. Screenplay film ini adalah J.K Rowling sendiri. Film ini ber-rating 13 tahun.

Sinopsis Film


Plot film ini, bercerita tentang Newt Scamander -yang dibintangi oleh Eddie Redmayne- yang datang ke New York untuk sesuatu alasan yang berada didalam kopernya, yang berupa mahluk mahluk dengan kemampuan fantastis. Namun, nasib sial menimpa dan membuat isi koper Newt keluar dan berpotensi menimbulkan masalah. Apakah Newt berhasil, menemukan isi kopernya? Tantangan apa saja yang menghadang? Silahkan tonton film ini di bioskop kesayangan anda.

Review


Hal pertama yang ingin saya sorot adalah, bagaimana tokoh protagonis di film ini sangatlah menarik dan baik ditampilkan. tokoh pembantu juga cukup bagus, seperti Jacob Kowalski -yang diperankan oleh Dan Fogler- yang berasa sebagai representasi penonton (terutama fans Harry Potter), yang tidak benar- benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setting waktu tahun 1926 sangat baik ditampilkan, dengan presentasi kota New York yang baik. Properti yang digunakan juga sesuai dengan setting yang digunakan. Spesial efek dan CGI digunakan dengan baik dan tidak "menyakiti" mata.


Plot film ini mempunyai "nada" yang mirip dengan film- film Harry Potter sebelumnya, yaitu dark tapi dengan humor disana- sini namun dengan kuantitas yang membuat "nada" film ini berubah. Plot filmnya terasa segar dan tidak membuat orang- orang yang tidak mengenal Harry Potter kebingungan (yang mana saya adalah salah satu diantaranya), sesutau yang biasanya menjadi masalah difilm- film yang mengambil setting waktu sebelum film/ seri sebelumnya. Yang paling saya suka dari sisi plot adalah meskipun mereka memiliki rencana membuat 5 film untuk seri ini, tapi film ini tidak terasa seperti "pemanasan" untuk fim selanjutnya. Film ini memiliki konklusi/ akhir yang dirasa tidak "menggantung", tidak seperti film serial pada umumnya.

Kesimpulan

Fantastic Beasts and Where to Find Them adalah film dari dunia Harry Potter yang sangat cocok bagi yang sangat menyukai film bertema sihir atau fans dari Harry Potter itu sendiri.


Cocok untuk:
+ Penggemar Harry Potter/ film bertema sihir.
+ Yang suka dengan film dengan cerita yang fresh namun terhubung dengan seri film yang sudah ada.
+ Yang suka dengan film bisa ditonton bersama keluarga.
+ Yang suka mencoba film dengan tema yang belum pernah dia tonton.


Tidak cocok untuk:
- Yang tidak suka Harry Potter/ film bertema sihir.
- Yang tidak suka film berseting di masa lalu.

Minggu, 06 November 2016

Review Doctor Strange


Doctor Strange, adalah film dari Marvel Studio yang dirilis pada 27 Oktober 2016 di Indonesia, atau 4 November 2016 di Amerika Serikat. Film dengan budget 165 juta dolar ini dibintangi oleh Benedict Cumberbatch (Sherlock), dan disutradarai oleh Scott Derrickson. Film ini termasuk dalam bagian Marvel Cinematic Universe (MCU). Film ini diberi rating 17 tahun di Indonesia.

Sinopsis Film


Film ini mengisahkan seorang ahli dokter syaraf bernama Stephen Strange, yang begitu berbakat dan mampu melakukan operasi- operasi sulit. Sayangnya, kariernya harus berakhir disaat dia mengalami kecelakaan dan menyebabkan syaraf di tangannya rusak dan membuat tangannya bergetar. Ingin kembali melanjutkan kariernya, dia menghabiskan seluruh kekayaan untuk menyembuhkan tangannya. Kehabisan cara, dia mendengar ada pasien lumpuh karena patah tulang punggung yang berhasil sembuh meski, secara kedokteran mustahil sembuh. Apakah dia akan sembuh? Apakah dia menemukan caranya? Silahkan tonton di bioskop kesayangan anda (ini no spoiler review).


Review


Hal pertama yang harus diketahui adalah ILM (Industrial Light and Magic) sekali lagi melakukan pekerjaannya dengan sangat luar biasa. Efek visual yang ditampilkan pada film ini sangat bagus sekali. Walaupun begitu sepertinya rada sulit untuk diikuti untuk bagian disaat banyak efek ditampilkan bersamaan. 

Aktor-aktor yang berperan dalam film ini memiliki performa yang cukup baik. Walaupun pemilihan aktor perempuan sebagai Ancient One cukup kontroversial  dikalangan pecinta komik. Namun, Benedict Cumberbacth yang tampil sebagai Doctor Strange, berhasil menampilkan karakter yang sangat baik. Tidak hanya penampilannya yang mirip dengan Doctor Strange dalam komik, namun karakterisasi/ penokohannya cukup baik ditampilkan, meskipun saya tidak ingat jika dalam komik, Doctor Strange cukup humoris. Karakter Mordo cukup menarik, apalagi setelah mengetahui ada potensi untuk muncul di film berikutnya.



Adegan aksi yang ditampilkan sangat baik, terutama jika dibandingkan dengan film film dengan genre sihir/ mistis yang serupa. Plot utama pada film ini sedikit sulit untuk diikuti oleh orang yang kurang mengerti komik atau konsep dasar dari dimensi lain dan perjalanan waktu (time travel). Sayangnya, formula marvel yang membuat film- filmnya terasa ringan dan humoris membuat sedikit rasa bosan karena kurangnya variasi tema film yang lebih kelam (tidak lebih kelam dibanding Winter Soldier). Walaupun begitu, film ini tetap dapat dinikmati dengan baik. Jangan lupa untuk tetap di kursi saat credit berjalan, karena film ini memiliki mid-credit scene & post-credit scene. Yang mana mid-credit scene-nya akan memberikan intipan tentang Thor Ragnarok.

Kesimpulan

Doctor Strange adalah film MCU yang sangat cocok untuk ditonton bersama pasangan, atau teman, jika tidak berkeberatan dangan plot yang sedikit rumit. Film yang ber-rating 17 di Indonesia ini sangat mirip dengan film Marvel Studio lainnya terutama dibagian humor, jadi anda tidak perlu khawatir film ini akan membosankan di tengah film.


 

Cocok untuk:
+ Pecinta Marvel.
+ Pecinta film dengan plot rumit.
+ Penggemar Benedict Cumberbatch.
+ Orang yang suka film dengan visual efek keren.


Tidak cocok untuk:
- Orang yang tidak suka Marvel.
- Bosan dengan pendekatan yang Marvel lakukan pada filmnya.
- Tidak suka dengan plot rumit.
- Yang tidak suka dengan visual ala ILM.

Selasa, 25 Oktober 2016

Review Jack Reacher: Never Go Back


Kali ini kita akan mereview sebuah film berjudul "Jack Reacher: Never Go Back". Film ini adalah sekuel dari film berjudul "Jack Reacher". Film produksi Skydance Media ini disutradarai oleh Edward Zwick, dan dibintangi oleh Tom Cruise yang kembali berperan sebagai Jack Reacher. Film yang memiliki budget 53 juta dolar ini dirilis tanggal 21 Oktober 2016.

Plot Film


Film ini adalah adaptasi dari novel karya Lee Child dengan judul "Never Go Back". Film ini mengisahkan tentang Jack Reacher, seorang mantan tentara yang berusaha untuk membersihkan nama baik seorang pimpinan polisi militer yang ditahan atas tindakan yang tidak dia lakukan. Dalam investigasinya banyak kejadian yang membuatnya ikut menjadi bagian kasus tersebut. Ada beberapa twist yang terjadi pula yang mempersulit Jack dalam menyelesaikan masalahnya.

Review


Secara pribadi, jujur saya belum pernah menonton film pertama Jack Reacher, ataupun novelnya. Tom Cruise sebagai Jack Reacher sangat baik, aktingnya sangat hidup. Tokoh tokoh penfukung lainnya cukup baik, meskipun tidak terlalu wah. Adegan aksi yang dilakukan parah tokohpun cukup baik, walaupun begitu film ini dirasa cukup santai dan humoris.

Plot cerita dan sekuen adegannya cukup menarik. Walaupun begitu ada sebagian sekuen yang mampu ditebak dan dirasa pernah ditonton, termasuk salah satu plot twist menjelang klimaks. Film ini cukup menarik untuk saya, terutama pada bagian detektifnya, seperti saat dia melacak dimana seorang remaja sedang bersembunyi.

Film yang berdurasi 118 menit ini, sempat dirasa terlalu panjang saat ditonton. Namun tidak mengganggu kenikmatan saat menontonnya.

Kesimpulan

"Jack Reacher: Never Go Back" merupakan film aksi yang cukup baik untuk ditonton, terutama bagi penggemar Tom Cruise. Walaupun ada bagian plot yang dapat ditebak.


Cocok untuk:
+ Penggemar film aksi.
+ Suka film aksi yang sedikit santai.
+ Penggemar Tom Cruise.
+ Suka film aksi dengan beberapa adegan detektif, dan plot twist sana sini.


Tidak cocok untuk:
- Yang tidak suka film aksi.
- Merasa Tom Cruise tidak menarik.
- Tidak suka film dengan cerita yang dapat ditebak.

Jumat, 23 September 2016

Liyla and The Shadows Of War


Permainan berdasarkan kejadian sebenarnya, menceritakan kisah seorang gadis kecil hidup dalam perang.”

           Begitulah isi deskripsi game story dengan rating 4,6/5 versi google play store “LIYLA AND THE SHADOWS OF WAR”. Permainan dengan tema warna hitam dan abu-abu ini menceritakan bagaimana Liyla juga kedua orang tuanya sebagai tokoh utama bertahan hidup didaerah perang, dimana game ini dibuat untuk menggambarkan suasana kehidupan di Gaza, Palestina. 

                      “For best experience, play this game in a dark room with headphones on”

   
          Ya memang sangat disarankan ketika memainkan permainan ini menggunakan earphones atau headphones dengan volume tinggi, ditempat gelap, sendirian. Karena permainan ini akan membuat kita si pemain seakan berada pada situasi hidup didaerah perang. 


        Untuk level yang disajikan, memang tidak banyak. Tetapi permainan free ini patut, harus, wajib untuk dicoba. Pesan yang bisa saya ambil dari permainan ini adalah, bahwa kita harus banyak bersyukur dengan kehidupan kita yang sekarang.




http://liyla.org

Senin, 29 Agustus 2016

Lights Out || Jangan biarkan gelap menemani anda




     Setelah sukses dengan film Conjuring 2, James Wan beserta, Eric Heisserer, dan Lawrence Grey memproduksi sebuah film bergenre horor dengan durasi 1 jam 21 menit, dengan tanggal rilis 22 juli 2016.
     Film yang mempunyai rating 6.8/10 versi IMDb ini berkisah tentang sebuah keluarga dimana sang ibu memiliki masa kecil yang menyeramkan, yaitu tinggal disebuah rumah sakit jiwa dan disanalah ia bertemu dengan si hantu Lights Out, Diana. Diana sendiri diceritakan tidak bisa terkena cahaya karena kelainan penyakit sewaktu hidupnya.

 
     Diana ingin selalu bersama dengan si-ibu dari kecil hingga si ibu mempunyai keluarga, karena bagi Diana hanya ibu tersebut lah sahabat terbaiknya. Diana selalu berusaha menyingkirkan anggota keluarga yang lain karena ia hanya ingin berdua dengan si-ibu. dimulai dari iya membunuh suami si-ibu kemudian mengincar anak perempuannya Rebecca, lalu anak laki-lakinya Martin, kemudian pacar Rebecca, Bret karena laki-laki itu membantu Rebecca dan dianggap sebagai penganggu.



(catatan : ibunya tidak memiliki nama)

Review

     Menurut saya film lumayan menegangkan, dengan diawal film sudah disuguhkan hantu Diana.

    Dimana alurnya maju mundur, seperti ketika anak-anaknya mengungkap kebenaran ibunya, lalu ketika anak perempuannya teringat kembali dengan masa kecilnya yang diteror Diana sama seperti adik laki-lakinya.


    Di awal-awal belum tertebak ceritanya akan bagaimana, mulai memasuki pertengahan saya  bisa menebak ceritanya dan benar saja pemikiran saya sesuai dengan ceritanya. Agak sedikit mengecewakan sih ketika kita dapat menebak dengan benar cerita sebuah film sebelum film itu selesai, namun film ini tidak begitu buruk. Kemunculuan Diana yang tidak diduga-duga cukup menyeramkan, dan selalu parno ketika tidak ada cahaya.


Kamis, 04 Agustus 2016

Review Suicide Squad


Suicide Squad adalah film ketiga dari DCEU (DC Extended Universe) yang diproduksi oleh WB (Warner Bros). Film ini disutradarai oleh David Ayer, yang juga penulis skrip film ini. Film ini dirilis tanggal 3 Agustus 2016 untuk Indonesia.

Sebelumnya, DCEU belakangan ini menuai kontroversi di internet bagi para fans dan penikmat film. Jadi bagi yang tahu dan mengikuti, saya hanya menginformasikan bahwa saya penggemar Marvel dan DC. Dan saya hanya tahu sedikit tentang Suicide Squad. Jadi, bawa santai saja review ini, dan jika perlu tonton dan buat sendiri pendapat anda tentang film ini.

Latar Belakang dan Plot


Film ini terinspirasi dari serial komik dari DC dengan judul yang sama. Di film ini, Amanda Waller, seorang petinggi di departemen pertahanan AS, ingin membuat sebuah tim khusus untuk berjaga- jaga jika orang/mahluk seperti Superman muncul namun dengan niat dan tindakan yang buruk bagi dunia. Tim khusus ini dikenal dengan Task Force X (Gugus Tugas X) yang akan diberikan tugas- tugas yang hampir mustahil diselesaikan, yang nantinya diberi komentar oleh Deadshot sebagai tim dengan tugas "bunuh diri" (bunuh diri= suicide).


Task Force X ini beranggotakan Kolonel Rick Flag sebagai pemimpin dari tim yang sebagian besar adalah penjahat yang sudah dipasang bom kecil di leher mereka jika mereka berusaha lari dan melenceng dari tugas. Rick Flag, diteman Katana sebagai bodyguard jika anggota tim yang lain menyerang Rick. Sedangkan anggota yang lain adalah Deadshot, Harley Quinn, Captain Boomerang, Killer Croc, El Diablo, dan Slipknot. Lalu bagaiman tim yang berisikan para penjahat ini menghadapi tugas mustahil yang diberikan? Silahkan tonton filmnya di bioskop kesayangan anda.

Review


Film ini memiliki cita rasa yang berbeda jika dibanding 2 film DCEU sebelumnya. Film ini terasa lebih ceria dengan humor yang cukup baik. Harley Quinn membawa humor yang pas dengan penokohan pada karakternya yang sangat mirip dengan versi serial animasi dan komiknya. Karakter seperti Deadshot dan Katana memiliki latar belakang yang menyentuh. Dan Captain Boomerang diperankan sangat baik disini, walaupun cukup disayangkan tidak diberikan latar belakang yang cukup. Penampilan El Diablo sangat bagus, jadi, sebagian penampilan para aktor sangat baik di film ini.

Soundtrack yang dipakai sebagai backsound cukup bagus, walaupun ada momen dimana terkesan si editor lupa menghentikan/memotong soundtracknya walaupun adegannya sudah berpindah ke adegan yang lain. Adegan aksinya cukup bagus namun tidak berlebihan. Adegan aksinya sebenarnya cukup keras, namun tidak ada darah yang ditampilkan disini. Ada beberapa adegan yang cukup seksi, jadi tidak terlalu disarankan untuk anak kecil.


Plot tidak terlalu rumit dan bisa dengan mudah diikuti dengan side story dari Joker. Khusus untuk Joker, untuk saya pribadi, saya merasa sedikit aneh dengan hubungan antara Joker dengan Harley Quinn, namun tidak terlalu berdampak pada penilaian film yang cukup bisa saya nikmati. Film ini juga memiliki cameo dari beberapa anggota Justice League, dan juga ada post-credit scene, jadi jangan ninggalin bioskop jika belum lihat cuplikannya.

Kesimpulan

Suicide Squad adalah film ketiga dari DCEU yang memberikan cita rasa yang berbeda untuk kalangan dan lebih cocok untuk kalangan yang lebih luas. Film ini layak ditonton, terutama bagi yang ingin tahu kelanjutan DCEU, atau yang ingin merasakan cita rasa yang lebih ceria dibanding 2 film sebelumnya. Walaupun begitu, film ini memiliki beberapa masalah, namun ada peningkatan kualitas dari film sebelumnya.


+ Penokohan yang cukup baik untuk beberapa tokoh utama.
+ Cerita yang tidak serumit film sebelumnya.
+ Humor yang klop dengan film.


- Beberapa bagian terasa kurang tersentuh oleh editor.
- Tidak cocok untuk yang tidak suka cameo dari boneka unicorn.
- Tidak suka cerita dari DC Comic.

Senin, 11 Juli 2016

Review Dream Machine: The Game - Game Puzzle Unik Untuk Smartphone


Kali ini saya akan mereview game android bernama Dream Machine. Dream Machine merupakan game untuk smartphone android dan IOS, hasil kolaborasi dari GameDigits dan Red Kite Games dari UK. Game ini dapat dibeli di Google Playstore sekitar Rp. 15.000,-. Game ini sebenarnya sudah dirilis pada bulan Maret 2016, tapi tetap menarik bagi penulis untuk mereview game ini.

Bagi yang sudah lama berkecimpung di dunia gaming smartphone, mungkin akan berpikir bahwa game ini mirip dengan Monument Valley. Yap, game ini mengambil desain tampilan yang mirip, tetapi lebih baik jika anda mencobanya terlebih dahulu, apalagi game ini tidak ada yang namanya in app products (konten berbayar di dalam game) atau DLC.

Plot



Game ini bercerita tentang sebuah robot yang melawan norma dan aturan yang berlaku pada tempatnya. Pada perjalanannya, dia akan menemukan alat alat yang tidak biasa dan beberapa bos. Plotnya simpel dan tidak memiliki dialog, cukup berbeda dengan Monument Valley.

Gameplay






Mekanik game ini cukup simpel, yaitu membawa sang karakter utama dari poin A ke poin B. Game ini memiliki mekanik/ cara bermain yang bercita rasa berbeda dengan Monument Valley. Jika Monument Valley memiliki mekanik sentuh untuk bergerak, di game ini justru sebaliknya, yaitu sentuh untuk berhenti. Di game ini karakter yang dimainkan juga bisa mati. Seperti di salah satu level di chapter 2, dimana terdapat pisau pada level tersebut, yang mana jika pemain gagal mengerti cara kerjanya, saat si robot menyentuh pisau maka si robot akan mati.


Di game ini juga terdapat boss battle. Yang mana menurut saya merupakan daya tarik utama, dan pembeda dengan game sejenis. Desain karakter, dan levelnya sangat menarik, dan mekanik pada boss battle cukup bervariasi pada tiap boss battle.

Game ini juga memiliki sistem level up untuk karakter yang dimainkan, yang mana akan mengupgrade kecepatan jalan dan nyawa untuk si karakter. Sayangnya, sistem upgrade ini berasa tidak diperlukan atau mempengaruhi gameplay sama sekali. Kontrol pada tuas yang harus diputar, terkadang sedikit kurang nyaman, atau mungkin hanya jari penulis yang kurang cocok pada layar smartphone yang dipakai.

Kesimpulan

Dream Machine: The Game, merupakan game puzzle isometrik yang terinspirasi dengan karya pelukis Escher. Game ini memiliki visual, dan gameplay yang menarik yang membuatnya terasa berbeda dengan game yang serupa. Game ini dibandrol dengan harga sekitar Rp 15.000,- yang mana dirasa cukup pantas dengan isi yang ditawarkan, terutama jika dibandingkan dengan Monument Valley tanpa DLC ( Rp 15.000,- untuk 20 level vs Rp 46.000,- untuk 10 level).


+ Desain level yang menarik.
+ Boss battle.
+ Harga yang cukup layak dengan isinya.
+ Cocok untuk yang menggemari game puzzle dengan boss battle.

- Tidak cocok untuk yang tidak suka game puzzle.