Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2019

Review Godzilla: King of The Monsters


Hey guys, it's Swordsman. Kali ini aku bakal bahas Godzilla: King of The Monsters. Godzilla: King of The Monsters adalah film sequel dari film Godzilla (2014), dan merupakan film ke-35 dari franchise Godzilla (yang nggak kesemuanya nyambung). Film yang awalnya digunakan sebagai kritik politik di Jepang ini merupakan film hasil sutradara Michael Dougherty, yang juga ikut nulis naskah filmnya bersama Zach Shields. Aslinya film ini mau disutradarai oleh Gareth Edward, tapi batal karena pada 2016, dia ninggalin project film ini. Oh ya, film ini dibintangi oleh Ken Watanabe, Kyle Chandler, Vera Farmiga, Millie Bobby Brown, Sally Hawkins, dan lainnya. Film yang memiliki budget 200 juta dollar AS ini, rilis di Indonesia tanggal 30 Mei 2019 kemaren.

Plot


Setelah kejadian di film Godzilla (2014), Monarch (organisasi yang meneliti & mencari kaiju/monster) dituntut oleh pemerintah dan masyarakat untuk memberitahukan lokasi dan membunuh para monster yang sudah mereka temukan. Mengetahui bahwa tidak semua monster yang ditemukan berada pada pihak yang "jahat", mereka tetap bungkam. Namun, dalam kejadian bangunnya salah satu monster yang mereka temukan, diketahui bahwa ada pihak lain yang mengincar monster ini dengan alasan yang tidak diketahui. Apa yang terjadi? Silahkan tonton di bioskop kesayangan anda.

Review


Dari trailer film kita tahu bakal ada 4 monster yang bakal berantem di film ini, dan semuanya punya desain yang keren abis. Kualitas CGI di film ini sangat memanjakan mata, adegan dimana monster ditampilin cukup dekat dengan kamera, masih punya detail- detail yang bikin otak "gila, itu kulitnya nyata banget". Efek pas adegan aksi juga nggak kalah kerennya kok.

Ngomongin tentang aksi, film ini nggak bakal bikin kecewa buat yang pengen nonton monster berantem. Adegan monster di film ini cukup banyak dan nggak bakalan bikin ngeluh "monster berantemnya kedikitan". Pertarungannya epik dan lengkap dengan adegan yang cocok buat wallpaper HP, atau komputer. Hanya saja ada sedikit adegan pertarungan yang ditampilin close up dengan monsternya yang terlalu deket dan kameranya terlalu bergetar, jadi kita nggak keliatan jelas apa yang terjadi. Untungnya ini cuma sedikit.

Akting di film ini nggak jelek, tapi plot yang ditulis di naskah untuk tokoh manusia nggak membantu untuk penonton terpaku untuk jangka waktu yang lama. Untuk SFX alias efek suara, film ini masih sekeren film yang mereka lanjutin. 


Sayangnya, bagian tengah film ini nggak begitu asik, ada minimal 2 adegan eksposisi yang dibawa terlalu panjang, yang mana nggak ngebantu plot yang berjalan untuk semakin menarik. Banyaknya adegan eksposisi ini, tidak dibawa dengan progress seting cerita adalah salah satu kelemahan film ini menurutku. Ditambah, waktu yang dihabiskan dalam adegan- adegan tersebut bisa dipakai untuk transisi pergerakan karakter dari dalam satu ruangan/kendaraan ke ruangan/kendaraan lainnya, yang mana mengurangi jump-cut yang digunakan terlalu banyak disini. Kurangnya adegan transisi perpindahan karakter manusia di film ini, membuat rada sulit untuk menerka dimana mereka. Tau- tau udah di bunker, tau tau udah di kapal, dan ini paling kerasa banget di tengah film.


Hal terakhir yang aku rasa kurang adalah, bagaimana film ini nunjukkin skala dari monster- monster yang ditampilin. Kalo kita lihat di film Godzilla (2014), gerakan Godzilla terkesan berat, lambat, yang mana seperti seharusnya, mengingat tingginya yang sekitar tinggi Monas yang ada di Jakarta. Yang dimaksud bukan lambat seperti slow motion, tapi lambat seolah- olah mereka punya beban yang sangat berat. Simpelnya, nggak mungkin tangan kita secepat tangan belalang sembah (cengcorang/ cangcorang, itulah pokoknya), kalau kita bisa, nggak ada cerita kita meleset pas nepok nyamuk. Dan di film ini, meski nggak se-ekstrim contoh, namun perbedaan beban gerak Godzilla misalnya, lebih kecil dalam film ini. Nggak kerasa banget, tapi buat yang udah nonton yang sebelumnya bisa keliatan dengan mudah.

Kesimpulan

Godzilla: King of The Monsters merupakan film aksi pertarungan monster yang keren abis, dilengkapi dengan tampilan yang cantik, efek visual yang keren, efek suara yang bagus, dan pertarungan epik, yang bakal bikin liburan ini (kalo libur, hehe) menjadi lebih seru. Namun dilengkapi dengan beberapa kekurangan yang mengurangi sedikit nikmat dari film ini.


Cocok untuk:
+ Pecinta film aksi yang ingin menghabiskan liburan dengan film aksi yang keren.
+ Yang suka pertarungan epik antar monster.
+ Yang suka desain dan kemampuan kaiju ala versi Jepang.
+ Yang oke dengan simplisitas plot dari sisi monster.


Tidak cocok untuk:
- Yang nggak suka film aksi.
- Yang mengutamakan plot super menarik dibanding apa aja.

Sabtu, 04 Maret 2017

Review Film Logan


Hai, kali ini aku akan me-review film Logan. Logan adalah film ketiga Wolverine, yang juga merupakan spin-off dari seri X-Men. Film ini juga merupakan penampilan Hugh Jackman sebagai Wolverine dan Patrick Stewart sebagai Profesor X. Film ini disutradarai oleh James Mangold dan berdurasi 137 menit. Oh iya, ini film X-Men kedua yang ber-rating R.

Plot


Logan (panggilan lain dari Wolverine) kini semakin tua, dan bersama Charles Xavier, mereka tinggal di suatu tempat di El Paso. Hidup disaat tidak ada kelahiran mutan lagi dan tidak diketahuinya mutan yang hidup selain mereka, Logan hidup dengna keputus-asaan, namun harus tetap berjuang untuk merawat Charles yang semakin renta. Dimasa penuh putus asa tersebut, datanglah seorang mutan kecil ke kehidupan mereka, yang membutuhkan Logan untuk mencapai sebuah tempat. Apakah mereka berhasil? Silahkan tonton filmnya di bioskop kesayangan anda.

Review: Film Superhero dengan Bumbu Western yang Mengharukan



Pertama, film ini mengingatkan aku dengan film- film bergenre western, terutama bagian awal dan akhir. Film ini akhirnya dapat menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi jika seseorang tertusuk atau terkena cakar adamantium milik Wolverine, dan itu bisa dibilang brutal. Bukan berarti ini buruk, karena sebenarnya dengan memperlihatkan hal tersebut, kita bisa mengetahui apa yang menghantui Wolverine di setiap tidurnya. Dan film yang membuat kita secara emosional peduli atau terhubung dengan karakternya seringkali sangat bagus.

Skrip film ini sangat fantastis, mereka berhasil menyentuh hati penonton. Mereka berhasil memunculkan drama yang baik, dan menarik. Meskipun film ini memiliki plot yang serius, namun ada beberapa humor disini, tidak banyak, namun sesuai dengan proporsinya. Terutama adegan dimana Logan, Charles, dan Laura (mutan kecil yang bersama mereka), makan malam bersama sebuah keluarga petani. Dialog yang disampaikan terasa segar dan unik, dan realistis secara bersamaan.


Performa aktor dan aktris pada film ini luar biasa. Hugh Jackman dan Patrick Stewart, berhasil menkankan bahwa casting pada film X-Men (2000) sangatlah tepat. Mereka berhasil memerankan karakternya luar biasa baik untuk sekali lagi (dan mungkin terakhir kali). Aktris pemeran Laura, juga aku anggap merupakan pilihan tepat. Dia berhasil mencuri perhatian sebagai mutan berumur 11 tahun pada film ini. Adegan dramatis dan aksi diperankan dengan sangat baik olehnya pula. Performa karakter pendukung dan antagonis juga terasa natural terlepas dari penokohannya.

Secara sinematografi, pengambilan gambar pada film ini dilakukan dengan baik. Aksi yang terjadi dimunculkan dengan jelas, dan menegangkan. Adegan drama diambil dengan baik pula. Editing juga tidak memiliki masalah. Ada beberapa bagian dimana framerate (jumlah frame per detik, yang biasa dijadikan patokan seberapa halus suatu pergerakan pada film atau animasi) terasa lebih tinggi dibanding sebagian besar adegannya, namun dirasa cukup masuk akal mengingat apa yang terjadi pada adegan tersebut. Adapula beberapa adegan yang pengambilannya dirasa memnuculkan kesan film western.



Pemasalahan pada film ini muncul jika kita ingin mengaitkan film ini dengan film lain. Dikarenakan X-Men: Days of Future Past, banyak yang bingung pada alur waktu mana film ini terjadi. Jika kamu salah satunya, film ini berada alur waktu (timeline)  setelah ending masa depan X-Men: Days of Future Past. Pendekatan film yang berbeda dengan mayoritas film superhero, membuat film ini dirasa tidak membuat orang yang sudah terbiasa dengan film superhero kebanyakan butuh sedikit adaptasi. Hal seperti ini juga yang terjadi dengan trilogi The Dark Knight yang disutradarai Christopher Nolan. Jika pada trilogi The Dark Knight, pendekatan yang lebih realistis, membuatnya seperti crime-drama dikarenakan Batman yang (setiap dari semua versinya) tidak memiliki kemampuan super, sehingga terkadang sulit mengatakan bahwa trilogi tersebut adalah film superhero. Berbeda dengan Logan, film ini tetap memilik cita rasa superhero didalamnya, karena kekuatan super itulah yang menjadi bagian dari karakter pada filmnya.

Ngomong- ngomong, soundtracknya bagus, dan pas banget ama filmnya.

Kesimpulan



Logan merupakan film superhero terbaru dari franchise X-Men, dengan cita rasa berbeda, penuh emosional, dilengkapi adegan aksi yang brutal nan seru, dan drama yang menarik nan segar dengan soundtrack yang selalu pas dengan tiap adegannya. Menampilkan penampilan terakhir Hugh Jackman sebagai Wolverine, dan Patrick Stewart sebagai Profesor X, dan menampilkan penampilan pertama dari Dafne Keen sebagai Laura yang sangat baik dan membuatku berharap Fox membuat film untuknya. By the way, tidak ada plus minus untuk review ini.

Kamis, 15 Desember 2016

Review Rogue One: A Star Wars Story


Hey everyone, it's Swordsman. Dengan review Rogue One: A Star Wars Story. Rogue One: A Star Wars Story, merupakan spin- off  dari seri film Star Wars yang berada di dalam dunia Star Wars (aku yakin kalimatku mungkin sedikit membingungkan). Film yang disutradarai oleh Gareth Edwards dan diproduksi oleh Lucasfilm ini dirilis di bioskop 16 Desember 2016 di Amerika Serikat. Oh ya, ini review tanpa spoiler.

Plot



Oke, pertama plot film yang akan aku bahas. Jika kalian/kamu sudah pernah menonton semua episode di seri Star Wars, sebenarnya kisah/plot di film ini sudah dijelaskan pada opening crawl di original Star Wars ( Star Wars Episode IV: A New Hope). But, jika kalian tidak pernah menonton/ tahu, aku akan jelaskan. Tanpa spoiler tentunya.

Jadi film ini berseting waktu antara episode III dan IV. Tetapi, film ini bisa dikatakan langsung berlanjut ke episode IV. Fokus plot film ini adalah kisah bagaimana Rebel Alliance mendapat rencana dan cetak biru dari senjata rahasia Empire, yang berhasil mereka hancurkan nanti pada episode iv. Well, simple and without spoiler. Jadi, tenang bagi kalian yang baru memulai petualangan di dunia Star Wars, karena film ini bisa jadi awal yang baik untuk memulai (dengan dilanjutkan episode IV tentunya agar mendapat alur cerita maju)

Review



Karakter, karakter (dan dialognya tentunya) yang menjadi hal yang sangat membuat Star Wars begitu disukai. Selain karakter karakter "klasik" seperti Darth Vader, mungkin hanya Jyn Erso (diperankan oleh Felicity Jones) yang mempunyai  character development yang baik. Bukan berarti karakter yang lain buruk dalam sisi penokohan ataupun performa aktingnya. Namun kurangnya ikatan terhadap penonton lewat apa yang disebut dengan character development-lah yang jadi masalah. Ada banyak adegan yang membuat kami (aku dan admin blog ini) menyukai karakter- karakter di film ini, namun kurangnya latar belakang pada karakter- karakternya yang membuat kami harus kehilangan rasa "terikat" yang harusnya ada.

Meskipun begitu, performa para aktor dan karakternya sendiripun cukup bagus. Seperti K- 2SO (Alan Tudyk), dan Orson Krennic (Ben Mendelsohn) tampil sangat bagus di film. Selain K- 2SO, dan beberapa mahluk alien dan robot di film ini, ada 1 karakter dari Star Wars Episode IV yang tampil full CGI (dikarenakan meninggalnya si pemeran) yang sempat menipu mataku dengan mengira jika karakter tersebut diperankan oleh pemerannya di episode iv ( thanks Industrial Light and Magic). Dialog di film ini cukup bagus, dan banyak candaan dari karakter pembantu (terutama K- 2SO) yang menemani sepanjang film.


Meskipun ada masalah pada bagian awal film (orientasi kalo di teks naratif) yang berguna mengenalkan para karakter. Namun keseluruhan plot dan filmnya sangat bisa dinikmati. Visual efek, soundtrack, memberikan kesan yang cukup mendalam bagi kami. Space battle sangat keren, petempuran di pantai sangat bagus. Hal yang sangat aku sukai adalah bahwa film ini mengambil tone yang lebih realistik dan dark. Jika kalian pernah menonton film Star Wars yang lain, kalian mungkin merasakan jika film ini memprediksi ada anak anak yang menonton. di Rogue One, film ini lebih menargetkan penonton yang lebih dewasa. Dan itu bisa dilihat dari hal kecil seperti seragam Stormtrooper yang bernoda, dsb. Bahkan film ini berasa tragis dengan klimaks antiklimaks (ini sedikit sulit untuk dijelaskan) di akhir.

Darth Vader and Star Wars Epicness


Ya, aku membuat seksi khusus untuk hal ini. Hal pertama yang perlu disampaikan adalah, jika anda ingin menonton Rogue One hanya karena Darth Vader, lebih baik anda mengurungkan niat anda. Karena Darth Vader hanya muncul sekitar beberapa menit di film ini. Walaupun begitu, adegannya sangat epik dan keren. Karakter yang sering disebut sebagai salah satu tokoh antagonis terbaik sampai saat ini ditampilkan sangat keren dengan adegannya yang bada** (ayolah kapan terakhir kali ia muncul di film), apalagi mengingat James Earl Jones kembali mengisi suara karakter epik ini. Karakter full cgi yang sempat aku sebutkan sebelumnya juga mengejutkanku. Ending film ini juga epik.


Kesimpulan



Rogue One: A Star Wars Story, merupakan spin off dari seri Star Wars yang sangat direkomendasikan untuk mengisi akhir pekan anda, terutama jika anda merupakan penggemar Star Wars. Dengan visual efek dan suara yang memukau. Bagi yang menjadikan film ini, film Star Wars pertama kalian, ini bia menjadi titik mulai yang baik, dengan Star Wars Episode IV menjadi film selanjutnya yang direkomendasikan (karena alurnya yang menyambung tanpa ada jeda waktu antar film).

Sekian review ini dibuat, jangan lupa klik ikon Google+ dan share jika bermanfaat. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya. Swordsman returning to base.

Sabtu, 03 Desember 2016

Review The Happening


         Film keluaran tahun 2008 ini menarik perhatian saya, ketika menjadi film peringkat pertama top 200 pada ilfix (bukan sponsor). Film karya sutradara M. Night Shyamalan ini bergenre drama - horror- thriller.



Dilihat dari covernya, terlihat seperti film tentang kehancuran dunia. Dengan gambar langit yang menghitam dan mobil yang posisinya tidak beraturan terlihat seperti akhir dunia akan terjadi. Ya tapi sebenarnya jalan ceritanya tidak seperti itu.

Film ini menceritakan  Mark Wahlberg sebagai Elliot Moore dan istrinya Zooey Deshanel sebagai Alma Moore juga anak temannya  Ashlyn Sanchez sebagai Jess, dimana mereka harus menyelamatkan diri dari wabah aneh yang menyerang kota. Tidak jelas apa sumber wabah ini, entah virus, atau serangan teroris. Tapi yang pasti jika seseorang terserang wabah ini, maka orang tersebut akan berperilaku aneh dan bunuh diri dengan cara apapun.


REVIEW

                Jujur saya suka sama film ini, walaupun saya sedikit bingung sama review orang-orang tentang film ini yang rata-rata tidak suka dan memberi komentar negatif. Yang saya suka difilm ini adalah saya jamin sampai detik terakhir film ini anda tidak akan dapat memecahkan misteri dalam film ini, anda tidak akan menemukan jawaban apapun. Karena saya sendiri tidak menemukan jawaban, dan  itu membuat saya jadi penasaran.

                Saya sempat googling apa jawaban dari film ini, namun saya belum menemukan apa-apa. Saya sarankan anda harus menonton film ini, dan mungkin anda dapat menemukan jawabannya? Jadi, apa yang sebernarnya terjadi? 


note : iflix gratis sebulan pakai email baru

Rabu, 23 November 2016

Review Kickboxer: Vengeance


Kickboxer Vegeance adalah film seni beladiri yang di sutradarai oleh John Stockwell yang di distribusikan oleh RLJ Entertainment, dan di bintangi oleh Alain Moussi, Jean-Claude Van Damme (yang mungkin kalian ketahui dari film serial Kickboxer sebelumnya), Dave Bautista, Gina Carano, Georges St-Pierre, dan Darren Shahlavi. Film ini merupakan film reboot dari film serial kickboxer sebelumnya. Film tersebut telah rilis di bioskop pada tanggal 2 September 2016.

Sinopsis Film


Kurt Sloane (yang di perankan oleh Alain Moussi) pergi ke Thailand untuk balas dendam kepada Tong Po (yang diperankan oleh Dave Bautista), karena Tong Po telah membunuh sodara kandungnya saat bertarung dalam kompetisi ilegal di Thailand. Kurt dilatih oleh Durand (yang diperankan oleh Jean-Claude Van Damme) agar Kurt dapat berhadapan melawan Tong Po. pada saat Kurt telah siap untuk melawan Tong Po, Liu (yang diperankan oleh Sara Malakul Lane) menangkap Kurt dan Durand karena Liu tidak bertanggung jawab untuk mengawasi Kurt saat berada di Thailand.Tetapi Kurt kabur dari penjara dan langsung bergegas ke pertandingan untuk melawan Tong Po. Pada babak pertama Kurt hampir kalah dalam pertandingan tetapi Kurt dapat bertahan dan pada babak kedua pertandingan pun tambah sengit karena telah ditambahkan senjata yaitu pecahan beling yang di tusukkan pada sarung tangan mereka, Tong Po masih unggul dalam babak kedua sampai akhirnya di babak ketiga Kurt pub berhasil mengalahkan Tong Po dan berhasil membayar dendamnya sambil mengatakan "This is for Eric". Ending film penonton akan di hibur dengan jogetan Jean-Claude Van Damme pada film Kickboxer 1989 dan Alain Moussi meniru jogetannya.

Cast

  • Alain Moussi sebagai Kurt Sloane
  • Jean-Claude Van Damme sebagai Master Durand
  • Dave Batista sebagai Tong Po
  • Darren Shahlavi sebagai Eric Sloane
  • Gina Carano sebagai Marcia
  • Georges St-Pierre sebagai Kavi
  • Sara Malakul Lane sebagai Liu
  • Matthew Ziff sebagai Bronco
  • T.J. Storm sebagai Storm
  • Steven Swadling sebagai Joseph King
  • Sam Medina sebagai Crawford
  • Luis Da Silva sebagai Stahl
  • Cain Velasquez sebagai King's Fighter
  • Fabricio Werdum sebagai Fighter
  • Michel Qissi sebagai Prisoner (uncredited cameo)

Penggambaran Film


Pengambilan film di mulai pada tanggal 24 November 2014, di New Orleans dan Thailand. Pengambilan film pertama di ambil di New Orleans pada scene Dave Bautista dan Alain Moussi di pertandingan terakhir dikarenakan Dave Bautista diharuskan untuk pergi lebih awal untuk pengambilan scene di film James Bond: Spectre sebagai Mr. Hinx.
Setelah pengambilan scene di New Orleans selesai, aktor Darren Shahlavi yang berperan sebagai Eric Sloane meninggal dunia pada tanggal 14 Januari 2015 di umur 42 tahun. Demitri Logothetis berkata bahwa film ini akan di dedikasikan untuk memperingati Darren Shahlavi.


Review

Sangat di rekomendasikan bagi yang sangat menyukai film Action, cerita dengan alur maju mundur, seni bela diri muay thay, dan film ini berating 17+. Dengan rating 17+ yang pasti film ini bukan untuk anak-anak yang berumur dibawah 17 tahun kecuali dalam pengawasan orang dewasa. Film Kickboxer Vengeance  tidak cocok bagi yang tidak menyukai film action, darah, dan perkelahian.


Kesimpulan

Film ini merupakan cerita reboot dari serial film kickboxer yang dulu diperankan oleh Jean-Claude Van Damme sebagai Kurt Sloane pada tahun 1989, dan film Kickboxer vegeance 2016 masih diperkuat dengan Jean-Claude Van Damme sebagai master atau trainer Kurt Sloane.




Cocok untuk:
 + Yang suka film action
 + Yang suka perkelahian
 + Yang suka muay thai

Tidak cocok untuk:
 - 17 tahun kebawah
 - Takut darah
 - Emosi yang berlebihan




Sabtu, 19 November 2016

Review Fantastic Beasts and Where to Find Them


Fantastic Beast and Where to Find Them adalah film terbaru dari Warner Bros, yang masih satu universe dengan film film dari seri Harry Potter. Film yang disutradarai oleh Dvid Yates ini dirilis di Indonesia pada tanggal 16 November 2016 lalu. Screenplay film ini adalah J.K Rowling sendiri. Film ini ber-rating 13 tahun.

Sinopsis Film


Plot film ini, bercerita tentang Newt Scamander -yang dibintangi oleh Eddie Redmayne- yang datang ke New York untuk sesuatu alasan yang berada didalam kopernya, yang berupa mahluk mahluk dengan kemampuan fantastis. Namun, nasib sial menimpa dan membuat isi koper Newt keluar dan berpotensi menimbulkan masalah. Apakah Newt berhasil, menemukan isi kopernya? Tantangan apa saja yang menghadang? Silahkan tonton film ini di bioskop kesayangan anda.

Review


Hal pertama yang ingin saya sorot adalah, bagaimana tokoh protagonis di film ini sangatlah menarik dan baik ditampilkan. tokoh pembantu juga cukup bagus, seperti Jacob Kowalski -yang diperankan oleh Dan Fogler- yang berasa sebagai representasi penonton (terutama fans Harry Potter), yang tidak benar- benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setting waktu tahun 1926 sangat baik ditampilkan, dengan presentasi kota New York yang baik. Properti yang digunakan juga sesuai dengan setting yang digunakan. Spesial efek dan CGI digunakan dengan baik dan tidak "menyakiti" mata.


Plot film ini mempunyai "nada" yang mirip dengan film- film Harry Potter sebelumnya, yaitu dark tapi dengan humor disana- sini namun dengan kuantitas yang membuat "nada" film ini berubah. Plot filmnya terasa segar dan tidak membuat orang- orang yang tidak mengenal Harry Potter kebingungan (yang mana saya adalah salah satu diantaranya), sesutau yang biasanya menjadi masalah difilm- film yang mengambil setting waktu sebelum film/ seri sebelumnya. Yang paling saya suka dari sisi plot adalah meskipun mereka memiliki rencana membuat 5 film untuk seri ini, tapi film ini tidak terasa seperti "pemanasan" untuk fim selanjutnya. Film ini memiliki konklusi/ akhir yang dirasa tidak "menggantung", tidak seperti film serial pada umumnya.

Kesimpulan

Fantastic Beasts and Where to Find Them adalah film dari dunia Harry Potter yang sangat cocok bagi yang sangat menyukai film bertema sihir atau fans dari Harry Potter itu sendiri.


Cocok untuk:
+ Penggemar Harry Potter/ film bertema sihir.
+ Yang suka dengan film dengan cerita yang fresh namun terhubung dengan seri film yang sudah ada.
+ Yang suka dengan film bisa ditonton bersama keluarga.
+ Yang suka mencoba film dengan tema yang belum pernah dia tonton.


Tidak cocok untuk:
- Yang tidak suka Harry Potter/ film bertema sihir.
- Yang tidak suka film berseting di masa lalu.

Minggu, 06 November 2016

Review Doctor Strange


Doctor Strange, adalah film dari Marvel Studio yang dirilis pada 27 Oktober 2016 di Indonesia, atau 4 November 2016 di Amerika Serikat. Film dengan budget 165 juta dolar ini dibintangi oleh Benedict Cumberbatch (Sherlock), dan disutradarai oleh Scott Derrickson. Film ini termasuk dalam bagian Marvel Cinematic Universe (MCU). Film ini diberi rating 17 tahun di Indonesia.

Sinopsis Film


Film ini mengisahkan seorang ahli dokter syaraf bernama Stephen Strange, yang begitu berbakat dan mampu melakukan operasi- operasi sulit. Sayangnya, kariernya harus berakhir disaat dia mengalami kecelakaan dan menyebabkan syaraf di tangannya rusak dan membuat tangannya bergetar. Ingin kembali melanjutkan kariernya, dia menghabiskan seluruh kekayaan untuk menyembuhkan tangannya. Kehabisan cara, dia mendengar ada pasien lumpuh karena patah tulang punggung yang berhasil sembuh meski, secara kedokteran mustahil sembuh. Apakah dia akan sembuh? Apakah dia menemukan caranya? Silahkan tonton di bioskop kesayangan anda (ini no spoiler review).


Review


Hal pertama yang harus diketahui adalah ILM (Industrial Light and Magic) sekali lagi melakukan pekerjaannya dengan sangat luar biasa. Efek visual yang ditampilkan pada film ini sangat bagus sekali. Walaupun begitu sepertinya rada sulit untuk diikuti untuk bagian disaat banyak efek ditampilkan bersamaan. 

Aktor-aktor yang berperan dalam film ini memiliki performa yang cukup baik. Walaupun pemilihan aktor perempuan sebagai Ancient One cukup kontroversial  dikalangan pecinta komik. Namun, Benedict Cumberbacth yang tampil sebagai Doctor Strange, berhasil menampilkan karakter yang sangat baik. Tidak hanya penampilannya yang mirip dengan Doctor Strange dalam komik, namun karakterisasi/ penokohannya cukup baik ditampilkan, meskipun saya tidak ingat jika dalam komik, Doctor Strange cukup humoris. Karakter Mordo cukup menarik, apalagi setelah mengetahui ada potensi untuk muncul di film berikutnya.



Adegan aksi yang ditampilkan sangat baik, terutama jika dibandingkan dengan film film dengan genre sihir/ mistis yang serupa. Plot utama pada film ini sedikit sulit untuk diikuti oleh orang yang kurang mengerti komik atau konsep dasar dari dimensi lain dan perjalanan waktu (time travel). Sayangnya, formula marvel yang membuat film- filmnya terasa ringan dan humoris membuat sedikit rasa bosan karena kurangnya variasi tema film yang lebih kelam (tidak lebih kelam dibanding Winter Soldier). Walaupun begitu, film ini tetap dapat dinikmati dengan baik. Jangan lupa untuk tetap di kursi saat credit berjalan, karena film ini memiliki mid-credit scene & post-credit scene. Yang mana mid-credit scene-nya akan memberikan intipan tentang Thor Ragnarok.

Kesimpulan

Doctor Strange adalah film MCU yang sangat cocok untuk ditonton bersama pasangan, atau teman, jika tidak berkeberatan dangan plot yang sedikit rumit. Film yang ber-rating 17 di Indonesia ini sangat mirip dengan film Marvel Studio lainnya terutama dibagian humor, jadi anda tidak perlu khawatir film ini akan membosankan di tengah film.


 

Cocok untuk:
+ Pecinta Marvel.
+ Pecinta film dengan plot rumit.
+ Penggemar Benedict Cumberbatch.
+ Orang yang suka film dengan visual efek keren.


Tidak cocok untuk:
- Orang yang tidak suka Marvel.
- Bosan dengan pendekatan yang Marvel lakukan pada filmnya.
- Tidak suka dengan plot rumit.
- Yang tidak suka dengan visual ala ILM.

Selasa, 25 Oktober 2016

Review Jack Reacher: Never Go Back


Kali ini kita akan mereview sebuah film berjudul "Jack Reacher: Never Go Back". Film ini adalah sekuel dari film berjudul "Jack Reacher". Film produksi Skydance Media ini disutradarai oleh Edward Zwick, dan dibintangi oleh Tom Cruise yang kembali berperan sebagai Jack Reacher. Film yang memiliki budget 53 juta dolar ini dirilis tanggal 21 Oktober 2016.

Plot Film


Film ini adalah adaptasi dari novel karya Lee Child dengan judul "Never Go Back". Film ini mengisahkan tentang Jack Reacher, seorang mantan tentara yang berusaha untuk membersihkan nama baik seorang pimpinan polisi militer yang ditahan atas tindakan yang tidak dia lakukan. Dalam investigasinya banyak kejadian yang membuatnya ikut menjadi bagian kasus tersebut. Ada beberapa twist yang terjadi pula yang mempersulit Jack dalam menyelesaikan masalahnya.

Review


Secara pribadi, jujur saya belum pernah menonton film pertama Jack Reacher, ataupun novelnya. Tom Cruise sebagai Jack Reacher sangat baik, aktingnya sangat hidup. Tokoh tokoh penfukung lainnya cukup baik, meskipun tidak terlalu wah. Adegan aksi yang dilakukan parah tokohpun cukup baik, walaupun begitu film ini dirasa cukup santai dan humoris.

Plot cerita dan sekuen adegannya cukup menarik. Walaupun begitu ada sebagian sekuen yang mampu ditebak dan dirasa pernah ditonton, termasuk salah satu plot twist menjelang klimaks. Film ini cukup menarik untuk saya, terutama pada bagian detektifnya, seperti saat dia melacak dimana seorang remaja sedang bersembunyi.

Film yang berdurasi 118 menit ini, sempat dirasa terlalu panjang saat ditonton. Namun tidak mengganggu kenikmatan saat menontonnya.

Kesimpulan

"Jack Reacher: Never Go Back" merupakan film aksi yang cukup baik untuk ditonton, terutama bagi penggemar Tom Cruise. Walaupun ada bagian plot yang dapat ditebak.


Cocok untuk:
+ Penggemar film aksi.
+ Suka film aksi yang sedikit santai.
+ Penggemar Tom Cruise.
+ Suka film aksi dengan beberapa adegan detektif, dan plot twist sana sini.


Tidak cocok untuk:
- Yang tidak suka film aksi.
- Merasa Tom Cruise tidak menarik.
- Tidak suka film dengan cerita yang dapat ditebak.

Senin, 29 Agustus 2016

Lights Out || Jangan biarkan gelap menemani anda




     Setelah sukses dengan film Conjuring 2, James Wan beserta, Eric Heisserer, dan Lawrence Grey memproduksi sebuah film bergenre horor dengan durasi 1 jam 21 menit, dengan tanggal rilis 22 juli 2016.
     Film yang mempunyai rating 6.8/10 versi IMDb ini berkisah tentang sebuah keluarga dimana sang ibu memiliki masa kecil yang menyeramkan, yaitu tinggal disebuah rumah sakit jiwa dan disanalah ia bertemu dengan si hantu Lights Out, Diana. Diana sendiri diceritakan tidak bisa terkena cahaya karena kelainan penyakit sewaktu hidupnya.

 
     Diana ingin selalu bersama dengan si-ibu dari kecil hingga si ibu mempunyai keluarga, karena bagi Diana hanya ibu tersebut lah sahabat terbaiknya. Diana selalu berusaha menyingkirkan anggota keluarga yang lain karena ia hanya ingin berdua dengan si-ibu. dimulai dari iya membunuh suami si-ibu kemudian mengincar anak perempuannya Rebecca, lalu anak laki-lakinya Martin, kemudian pacar Rebecca, Bret karena laki-laki itu membantu Rebecca dan dianggap sebagai penganggu.



(catatan : ibunya tidak memiliki nama)

Review

     Menurut saya film lumayan menegangkan, dengan diawal film sudah disuguhkan hantu Diana.

    Dimana alurnya maju mundur, seperti ketika anak-anaknya mengungkap kebenaran ibunya, lalu ketika anak perempuannya teringat kembali dengan masa kecilnya yang diteror Diana sama seperti adik laki-lakinya.


    Di awal-awal belum tertebak ceritanya akan bagaimana, mulai memasuki pertengahan saya  bisa menebak ceritanya dan benar saja pemikiran saya sesuai dengan ceritanya. Agak sedikit mengecewakan sih ketika kita dapat menebak dengan benar cerita sebuah film sebelum film itu selesai, namun film ini tidak begitu buruk. Kemunculuan Diana yang tidak diduga-duga cukup menyeramkan, dan selalu parno ketika tidak ada cahaya.


Selasa, 31 Mei 2016

Review X- Men: Apocalypse


X- Men: Apocalypse adalah seri ke 9 dari seri film X- Men. Film ini bersetting waktu di tahun 80-an, atau 10 tahun setelah kejadian di seri sebelumnya ( X- Men: Days of Future Past). Beberap karakter dari seri- seri sebelumnya (X- Men: First Class dan X- Men: Days of Future Past), juga kembali ditambah dengan karakter baru. Film ini disutradarai oleh Bryan Singer, yang juga sempat menyutradarai beberapa film X- Men sebelumnya.

Plot

Film ini menceritakan kelanjutan dari X- Men Days of Future Past. Dimana semua (atau sebagian) kejadian setelah film tersebut berubah menjadi berbeda dari yang sudah diketahui. Film ini diawali dengan flashback ke zaman Mesir kuno dimana seorang mutan dengan nama En Sabah Nur - mutan dengan kemampuan untuk memindahkan alam sadarnya ke tubuh mutan lain untuk mengambil kekuatannya atau memperpanjang umur- yang dikudeta saat melakukan ritualnya, yang mengakibatkan dirinya "tidur panjang" selama ribuan tahun. "Terbangun" fi tahun 80-an, En Sabah Nur kembali ingin mewujudkan impiannya menguasai dunia. Bagaimana X- Men menghentikannya? Silahkan menonton filmnya untuk mengetahuinya.

Review


Film ini sebenarnya punya dasar cerita yang cukup solid. Sayangnya, sang musuh utama, Apocalypse ( walaupun tidak pernah dipanggil dengan sebutan ini) gagal memunculkan bahwa dia, mutan pertama dan terkuat di bumi dapat menghancurkan bumi. Plot yang digadang akan menghancurkan seluruh permukaan bumi gagal diperlihatkan ( atau hanya sebagian kecil dari bumi yang diperlihatkan kehancurannya). Timeline di franchise milik Fox ini juga cukup membingungkan. Walaupun setting waktu kejadiannya ditampilkan cukup jelas, namun tampilan karakter kurang mendukung. Beberapa karakter cenderung terlihat lebih muda, yang mana seharusnya terlihat 10 tahun lebih tua.

Walau begitu, pemeran- pemeran baru disini berhasil memerankan karakternya cukup baik. Spesial efek yang dimunculkan juga sangat memanjakan mata, ditambah kostum 4 Horsemen dan anggota X- Men mulai mengikuti komik ( good bye, kostum bertema hitam dari beberapa seri sebelumnya).

Beberapa adegan ( scene) sangat epik dan menghibur. Seperti, dimana Quicksilver beraksi ( mirip dengan di X- Men: Days of Future Past), dan..... cameo Wolverine yang cukup tidak terduga ( walaupun sempat dibocorkan lewat trailer terakhir). Seperti film- film Marvel lainnya, film ini juga menyimpan post- credit scene yang kemungkinan memberi petunjuk tentang musuh utama di film Wolverine 3.

Kesimpulan

X-Men: Apocalypse adalah sekuel dari X-Men: Days of Future Past, yang dirasa tidak terlalu buruk untuk ditunggu dan di tonton. Walaupun timeline cerita cukup membingungkan, terutama saat disambungkan denga Deadpool. Namun, tidak terlalu buruk bila dibandingkan dengan X-Men: Wolverine Origin. Set up untuk film selanjutnya cukup baik, walaupun sepertinya akan memperumit timeline yang sudah rumit.


+ Weapon X is very bada**.
+ Adegan Quicksilver yang epik.
+ Kostum mulai mengikuti versi komiknya.
+ Teaser untuk Wolverine 3.


- Apocalypse, tidak melakukan apokalips.
- Tidak cocok untuk yang bukan penggemar X-Men.