Sabtu, 01 Juni 2019

Review Godzilla: King of The Monsters


Hey guys, it's Swordsman. Kali ini aku bakal bahas Godzilla: King of The Monsters. Godzilla: King of The Monsters adalah film sequel dari film Godzilla (2014), dan merupakan film ke-35 dari franchise Godzilla (yang nggak kesemuanya nyambung). Film yang awalnya digunakan sebagai kritik politik di Jepang ini merupakan film hasil sutradara Michael Dougherty, yang juga ikut nulis naskah filmnya bersama Zach Shields. Aslinya film ini mau disutradarai oleh Gareth Edward, tapi batal karena pada 2016, dia ninggalin project film ini. Oh ya, film ini dibintangi oleh Ken Watanabe, Kyle Chandler, Vera Farmiga, Millie Bobby Brown, Sally Hawkins, dan lainnya. Film yang memiliki budget 200 juta dollar AS ini, rilis di Indonesia tanggal 30 Mei 2019 kemaren.

Plot


Setelah kejadian di film Godzilla (2014), Monarch (organisasi yang meneliti & mencari kaiju/monster) dituntut oleh pemerintah dan masyarakat untuk memberitahukan lokasi dan membunuh para monster yang sudah mereka temukan. Mengetahui bahwa tidak semua monster yang ditemukan berada pada pihak yang "jahat", mereka tetap bungkam. Namun, dalam kejadian bangunnya salah satu monster yang mereka temukan, diketahui bahwa ada pihak lain yang mengincar monster ini dengan alasan yang tidak diketahui. Apa yang terjadi? Silahkan tonton di bioskop kesayangan anda.

Review


Dari trailer film kita tahu bakal ada 4 monster yang bakal berantem di film ini, dan semuanya punya desain yang keren abis. Kualitas CGI di film ini sangat memanjakan mata, adegan dimana monster ditampilin cukup dekat dengan kamera, masih punya detail- detail yang bikin otak "gila, itu kulitnya nyata banget". Efek pas adegan aksi juga nggak kalah kerennya kok.

Ngomongin tentang aksi, film ini nggak bakal bikin kecewa buat yang pengen nonton monster berantem. Adegan monster di film ini cukup banyak dan nggak bakalan bikin ngeluh "monster berantemnya kedikitan". Pertarungannya epik dan lengkap dengan adegan yang cocok buat wallpaper HP, atau komputer. Hanya saja ada sedikit adegan pertarungan yang ditampilin close up dengan monsternya yang terlalu deket dan kameranya terlalu bergetar, jadi kita nggak keliatan jelas apa yang terjadi. Untungnya ini cuma sedikit.

Akting di film ini nggak jelek, tapi plot yang ditulis di naskah untuk tokoh manusia nggak membantu untuk penonton terpaku untuk jangka waktu yang lama. Untuk SFX alias efek suara, film ini masih sekeren film yang mereka lanjutin. 


Sayangnya, bagian tengah film ini nggak begitu asik, ada minimal 2 adegan eksposisi yang dibawa terlalu panjang, yang mana nggak ngebantu plot yang berjalan untuk semakin menarik. Banyaknya adegan eksposisi ini, tidak dibawa dengan progress seting cerita adalah salah satu kelemahan film ini menurutku. Ditambah, waktu yang dihabiskan dalam adegan- adegan tersebut bisa dipakai untuk transisi pergerakan karakter dari dalam satu ruangan/kendaraan ke ruangan/kendaraan lainnya, yang mana mengurangi jump-cut yang digunakan terlalu banyak disini. Kurangnya adegan transisi perpindahan karakter manusia di film ini, membuat rada sulit untuk menerka dimana mereka. Tau- tau udah di bunker, tau tau udah di kapal, dan ini paling kerasa banget di tengah film.


Hal terakhir yang aku rasa kurang adalah, bagaimana film ini nunjukkin skala dari monster- monster yang ditampilin. Kalo kita lihat di film Godzilla (2014), gerakan Godzilla terkesan berat, lambat, yang mana seperti seharusnya, mengingat tingginya yang sekitar tinggi Monas yang ada di Jakarta. Yang dimaksud bukan lambat seperti slow motion, tapi lambat seolah- olah mereka punya beban yang sangat berat. Simpelnya, nggak mungkin tangan kita secepat tangan belalang sembah (cengcorang/ cangcorang, itulah pokoknya), kalau kita bisa, nggak ada cerita kita meleset pas nepok nyamuk. Dan di film ini, meski nggak se-ekstrim contoh, namun perbedaan beban gerak Godzilla misalnya, lebih kecil dalam film ini. Nggak kerasa banget, tapi buat yang udah nonton yang sebelumnya bisa keliatan dengan mudah.

Kesimpulan

Godzilla: King of The Monsters merupakan film aksi pertarungan monster yang keren abis, dilengkapi dengan tampilan yang cantik, efek visual yang keren, efek suara yang bagus, dan pertarungan epik, yang bakal bikin liburan ini (kalo libur, hehe) menjadi lebih seru. Namun dilengkapi dengan beberapa kekurangan yang mengurangi sedikit nikmat dari film ini.


Cocok untuk:
+ Pecinta film aksi yang ingin menghabiskan liburan dengan film aksi yang keren.
+ Yang suka pertarungan epik antar monster.
+ Yang suka desain dan kemampuan kaiju ala versi Jepang.
+ Yang oke dengan simplisitas plot dari sisi monster.


Tidak cocok untuk:
- Yang nggak suka film aksi.
- Yang mengutamakan plot super menarik dibanding apa aja.

Senin, 19 Juni 2017

Late Review || Danur || London Love Story 2

          Ada beberapa review film yang sudah aku buat tapi, belum di post karena gak sempet terus akhirnya kelupaan. Tapi daripada mubazir, review film tersebut akan aku post dalam satu artikel. Kali ini ada 2 film yang cukup happening beberapa bulan lalu, dengan tema film yang kontras. Yup, London Love Story 2 (2017) bergenre romantis/drama dan Danur (2017) yang bergenre horror. Yang pertama, aku bakal kasih review London Love Story 2 (2017).
         


          Seperti judulnya, film ini adalah sekuel kedua dari film London Love Story pertama 
ditahun 2016 berdurasi 97 menit. Masih dengan sutradara yang sama yaitu Asep Kusnidar dan aktor juga aktris yang sama, yaitu Michelle Ziudith sebagai Caramel, Dimas Anggara sebagai Dave, Ramzi sebagai Sam, dan penambahan aktor Rizki Nazar sebagai Gilang, juga Salshabila Adriani sebagai Samira .


            PLOT
Film ini menceritakan tentang kelanjutan dari kisah cinta Caramel (Michelle Ziudith) , Dave (Dimas Anggara) dimana impian sejak kecil Caramel dapat terwujud untuk pergi ke Swiss dan bermain salju sebagai kado ulang tahun dari Dave. Namun, dalam perjalanannya menuju Swiss, mereka mengalami beberapa hambatan dimana hampir ketinggalan kereta, lalu paspor Dave terjatuh dan membuat Caramel harus berangkat sendiri ke Swiss sementara Dave naik kereta jam berikutnya.

            Setibanya di Swiss, Caramel dijemput oleh Sam (Ramzi). Banyak kejadian lucu yang terjadi selama perjalanan Caramel dan Sam dari stasiun sampai tempat tinggal Sam. Malam harinya Sam mengajak Caramel kesebuah restoran terkenal di Swiss dengan chef orang Asia, disaat yang bersamaan Dave pun datang. Tanpa disangka, chef tersebut adalah Gilang (Rizki Nazar) yang merupakan cinta lama masa SMA Caramel yang sudah dia kubur dalam-dalam, dan kemunculan sahabat lamanya Samira (Salshabila Adriani) yang dapat membantu Dave mengungkapkan hal yang ditutupi dari Caramel. Disinilah konflik dimulai. Kisah cinta Caramel dan Dave diuji.


            REVIEW

            Rata-rata seperti film drama cinta lainnya, film ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dan berbagai hambatan didalamnya. Dengan film yang tema dan alurnya standar film drama indonesia terdapat nilai plus dari film ini dimana akting dari aktor dan aktrisnya yang memang berpengalaman pada film bergenre drama seperti ini, dan film ini cukup membuat saya baper di akhir-akhir film. Yang saya suka dari film ini adalah cerita yang lebih realita tak kesan dibuat-buat yang terlalu drama fantasi. Saya juga kurang bisa menebak ending dari ceritanya, itu juga nilai plus dari film ini. Pemilihan soundtrack film yang didominasi lagu dari penyanyi rossa, menambah suasana drama dalam film tersebut.




Yang kedua, sudah pasti review film Danur (2017). Danur : I can see ghost merupakan film horror indonesia yang tayang pada 30 maret 2017 yang disutradai oleh Awi Suryadi. Film berdurasi 78 menit ini terinspirasi berdasarkan kisah nyata seorang anak indigo bernama Risa yang kemudian dijadikan sebuah buku dengan judul yang sama Danur. Film ini diperankan oleh Prilly Latuconsina sebagai Risa dewasa, Wesley Andrew sebagai Hantu William , Kevin Bzezovski sebagai Hantu Janshen , Gama Haritz sebagai Hantu Peter, Indra Brotolaras sebagai Andri, Shareefa Danish sebagai Hantu Asih, Sandrinna Mischelle sebbagai Riri, Kinaryosih sebagai Ely, Inggrid Widjanarko sebagai Nenek, Asha Kenyeri sebagai Risa kecil, Fuad Idris sebagai Mang Ujang dan Jose Rizal Manua sebagai Asep




PLOT
Danur sendiri diartikan sebagai bau busuk yang keluar dari mayat. Dalam film ini diceritakan Risa saat kecil tidak mempunyai teman, orang tuanya yang bekerja membuat Risa merasa kesepian. Risasaat itu hanya tinggal dengan  Mang Ujang, pada saat ulang tahunnya yang ke-8 Risa kecil berdoa mengharapkan endapat teman. Dan saat itulah dimulai Risa bertemu dengan teman hantunya yaitu William, Peter, dan Janshen. Sejak saat itu Risa menjadi tidak kesepian. Namun, Mang ujang yang menemani Risa saat dirumah merasa janggal ketika melihat Risa tertawa dan bermain seperti menyebut nama dan membuat ibunya Elly menjadi khawatir. Dan akhirnya terungkap bahwa temn-teman Risa adalah hantu, yang akhirnya membuat Risa dan keluarganya pindah dari rumah tersebut.
9 tahun kemudian Risa dan Elly ibunya juga adiknya Riri kembali kerumah tersebut untuk menjaga neneknya yang sedang sakit bergantian dengan Andri sepupunya. Namun, kejadian aneh mulai terjadi. Gangguan Asih yang merupakan Hantu jahat membuat resah Prilly dan teringat akan masa lalunya, dan puncaknya saat Riri menghilang. Risa pun harus enyelatkan adiknya dari Hantu jahat yang berencana membawa Riri ke dunia lain.



REVIEW
Ketika melihat film ini kalian akan mengingat adegan pada salah satu film horror luar negri. Dibandingkan dengan film horror indonesia lainnya, film ini berbeda jauh dengan film horror indonesia biasanya, dengan pernyataan bahwa ini adalah sebagian dari kisah nyata membuat nilai plus pada film bergenre horror ini. Kalau saya pribadi selama menonton film ini gak selalu melulu tegang, ada bagian sedih dan harunya yang membuat film horror ini makin berbeda, dan film ini wajib buat ditonton. Kalau diberi nilai dari 1-10 saya kasih nilai 9.







danur : i can see ghost (2017)

Sabtu, 04 Maret 2017

Review Film Logan


Hai, kali ini aku akan me-review film Logan. Logan adalah film ketiga Wolverine, yang juga merupakan spin-off dari seri X-Men. Film ini juga merupakan penampilan Hugh Jackman sebagai Wolverine dan Patrick Stewart sebagai Profesor X. Film ini disutradarai oleh James Mangold dan berdurasi 137 menit. Oh iya, ini film X-Men kedua yang ber-rating R.

Plot


Logan (panggilan lain dari Wolverine) kini semakin tua, dan bersama Charles Xavier, mereka tinggal di suatu tempat di El Paso. Hidup disaat tidak ada kelahiran mutan lagi dan tidak diketahuinya mutan yang hidup selain mereka, Logan hidup dengna keputus-asaan, namun harus tetap berjuang untuk merawat Charles yang semakin renta. Dimasa penuh putus asa tersebut, datanglah seorang mutan kecil ke kehidupan mereka, yang membutuhkan Logan untuk mencapai sebuah tempat. Apakah mereka berhasil? Silahkan tonton filmnya di bioskop kesayangan anda.

Review: Film Superhero dengan Bumbu Western yang Mengharukan



Pertama, film ini mengingatkan aku dengan film- film bergenre western, terutama bagian awal dan akhir. Film ini akhirnya dapat menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi jika seseorang tertusuk atau terkena cakar adamantium milik Wolverine, dan itu bisa dibilang brutal. Bukan berarti ini buruk, karena sebenarnya dengan memperlihatkan hal tersebut, kita bisa mengetahui apa yang menghantui Wolverine di setiap tidurnya. Dan film yang membuat kita secara emosional peduli atau terhubung dengan karakternya seringkali sangat bagus.

Skrip film ini sangat fantastis, mereka berhasil menyentuh hati penonton. Mereka berhasil memunculkan drama yang baik, dan menarik. Meskipun film ini memiliki plot yang serius, namun ada beberapa humor disini, tidak banyak, namun sesuai dengan proporsinya. Terutama adegan dimana Logan, Charles, dan Laura (mutan kecil yang bersama mereka), makan malam bersama sebuah keluarga petani. Dialog yang disampaikan terasa segar dan unik, dan realistis secara bersamaan.


Performa aktor dan aktris pada film ini luar biasa. Hugh Jackman dan Patrick Stewart, berhasil menkankan bahwa casting pada film X-Men (2000) sangatlah tepat. Mereka berhasil memerankan karakternya luar biasa baik untuk sekali lagi (dan mungkin terakhir kali). Aktris pemeran Laura, juga aku anggap merupakan pilihan tepat. Dia berhasil mencuri perhatian sebagai mutan berumur 11 tahun pada film ini. Adegan dramatis dan aksi diperankan dengan sangat baik olehnya pula. Performa karakter pendukung dan antagonis juga terasa natural terlepas dari penokohannya.

Secara sinematografi, pengambilan gambar pada film ini dilakukan dengan baik. Aksi yang terjadi dimunculkan dengan jelas, dan menegangkan. Adegan drama diambil dengan baik pula. Editing juga tidak memiliki masalah. Ada beberapa bagian dimana framerate (jumlah frame per detik, yang biasa dijadikan patokan seberapa halus suatu pergerakan pada film atau animasi) terasa lebih tinggi dibanding sebagian besar adegannya, namun dirasa cukup masuk akal mengingat apa yang terjadi pada adegan tersebut. Adapula beberapa adegan yang pengambilannya dirasa memnuculkan kesan film western.



Pemasalahan pada film ini muncul jika kita ingin mengaitkan film ini dengan film lain. Dikarenakan X-Men: Days of Future Past, banyak yang bingung pada alur waktu mana film ini terjadi. Jika kamu salah satunya, film ini berada alur waktu (timeline)  setelah ending masa depan X-Men: Days of Future Past. Pendekatan film yang berbeda dengan mayoritas film superhero, membuat film ini dirasa tidak membuat orang yang sudah terbiasa dengan film superhero kebanyakan butuh sedikit adaptasi. Hal seperti ini juga yang terjadi dengan trilogi The Dark Knight yang disutradarai Christopher Nolan. Jika pada trilogi The Dark Knight, pendekatan yang lebih realistis, membuatnya seperti crime-drama dikarenakan Batman yang (setiap dari semua versinya) tidak memiliki kemampuan super, sehingga terkadang sulit mengatakan bahwa trilogi tersebut adalah film superhero. Berbeda dengan Logan, film ini tetap memilik cita rasa superhero didalamnya, karena kekuatan super itulah yang menjadi bagian dari karakter pada filmnya.

Ngomong- ngomong, soundtracknya bagus, dan pas banget ama filmnya.

Kesimpulan



Logan merupakan film superhero terbaru dari franchise X-Men, dengan cita rasa berbeda, penuh emosional, dilengkapi adegan aksi yang brutal nan seru, dan drama yang menarik nan segar dengan soundtrack yang selalu pas dengan tiap adegannya. Menampilkan penampilan terakhir Hugh Jackman sebagai Wolverine, dan Patrick Stewart sebagai Profesor X, dan menampilkan penampilan pertama dari Dafne Keen sebagai Laura yang sangat baik dan membuatku berharap Fox membuat film untuknya. By the way, tidak ada plus minus untuk review ini.

Kamis, 15 Desember 2016

Review Rogue One: A Star Wars Story


Hey everyone, it's Swordsman. Dengan review Rogue One: A Star Wars Story. Rogue One: A Star Wars Story, merupakan spin- off  dari seri film Star Wars yang berada di dalam dunia Star Wars (aku yakin kalimatku mungkin sedikit membingungkan). Film yang disutradarai oleh Gareth Edwards dan diproduksi oleh Lucasfilm ini dirilis di bioskop 16 Desember 2016 di Amerika Serikat. Oh ya, ini review tanpa spoiler.

Plot



Oke, pertama plot film yang akan aku bahas. Jika kalian/kamu sudah pernah menonton semua episode di seri Star Wars, sebenarnya kisah/plot di film ini sudah dijelaskan pada opening crawl di original Star Wars ( Star Wars Episode IV: A New Hope). But, jika kalian tidak pernah menonton/ tahu, aku akan jelaskan. Tanpa spoiler tentunya.

Jadi film ini berseting waktu antara episode III dan IV. Tetapi, film ini bisa dikatakan langsung berlanjut ke episode IV. Fokus plot film ini adalah kisah bagaimana Rebel Alliance mendapat rencana dan cetak biru dari senjata rahasia Empire, yang berhasil mereka hancurkan nanti pada episode iv. Well, simple and without spoiler. Jadi, tenang bagi kalian yang baru memulai petualangan di dunia Star Wars, karena film ini bisa jadi awal yang baik untuk memulai (dengan dilanjutkan episode IV tentunya agar mendapat alur cerita maju)

Review



Karakter, karakter (dan dialognya tentunya) yang menjadi hal yang sangat membuat Star Wars begitu disukai. Selain karakter karakter "klasik" seperti Darth Vader, mungkin hanya Jyn Erso (diperankan oleh Felicity Jones) yang mempunyai  character development yang baik. Bukan berarti karakter yang lain buruk dalam sisi penokohan ataupun performa aktingnya. Namun kurangnya ikatan terhadap penonton lewat apa yang disebut dengan character development-lah yang jadi masalah. Ada banyak adegan yang membuat kami (aku dan admin blog ini) menyukai karakter- karakter di film ini, namun kurangnya latar belakang pada karakter- karakternya yang membuat kami harus kehilangan rasa "terikat" yang harusnya ada.

Meskipun begitu, performa para aktor dan karakternya sendiripun cukup bagus. Seperti K- 2SO (Alan Tudyk), dan Orson Krennic (Ben Mendelsohn) tampil sangat bagus di film. Selain K- 2SO, dan beberapa mahluk alien dan robot di film ini, ada 1 karakter dari Star Wars Episode IV yang tampil full CGI (dikarenakan meninggalnya si pemeran) yang sempat menipu mataku dengan mengira jika karakter tersebut diperankan oleh pemerannya di episode iv ( thanks Industrial Light and Magic). Dialog di film ini cukup bagus, dan banyak candaan dari karakter pembantu (terutama K- 2SO) yang menemani sepanjang film.


Meskipun ada masalah pada bagian awal film (orientasi kalo di teks naratif) yang berguna mengenalkan para karakter. Namun keseluruhan plot dan filmnya sangat bisa dinikmati. Visual efek, soundtrack, memberikan kesan yang cukup mendalam bagi kami. Space battle sangat keren, petempuran di pantai sangat bagus. Hal yang sangat aku sukai adalah bahwa film ini mengambil tone yang lebih realistik dan dark. Jika kalian pernah menonton film Star Wars yang lain, kalian mungkin merasakan jika film ini memprediksi ada anak anak yang menonton. di Rogue One, film ini lebih menargetkan penonton yang lebih dewasa. Dan itu bisa dilihat dari hal kecil seperti seragam Stormtrooper yang bernoda, dsb. Bahkan film ini berasa tragis dengan klimaks antiklimaks (ini sedikit sulit untuk dijelaskan) di akhir.

Darth Vader and Star Wars Epicness


Ya, aku membuat seksi khusus untuk hal ini. Hal pertama yang perlu disampaikan adalah, jika anda ingin menonton Rogue One hanya karena Darth Vader, lebih baik anda mengurungkan niat anda. Karena Darth Vader hanya muncul sekitar beberapa menit di film ini. Walaupun begitu, adegannya sangat epik dan keren. Karakter yang sering disebut sebagai salah satu tokoh antagonis terbaik sampai saat ini ditampilkan sangat keren dengan adegannya yang bada** (ayolah kapan terakhir kali ia muncul di film), apalagi mengingat James Earl Jones kembali mengisi suara karakter epik ini. Karakter full cgi yang sempat aku sebutkan sebelumnya juga mengejutkanku. Ending film ini juga epik.


Kesimpulan



Rogue One: A Star Wars Story, merupakan spin off dari seri Star Wars yang sangat direkomendasikan untuk mengisi akhir pekan anda, terutama jika anda merupakan penggemar Star Wars. Dengan visual efek dan suara yang memukau. Bagi yang menjadikan film ini, film Star Wars pertama kalian, ini bia menjadi titik mulai yang baik, dengan Star Wars Episode IV menjadi film selanjutnya yang direkomendasikan (karena alurnya yang menyambung tanpa ada jeda waktu antar film).

Sekian review ini dibuat, jangan lupa klik ikon Google+ dan share jika bermanfaat. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya. Swordsman returning to base.

Rabu, 07 Desember 2016

Review Game Abzu


Kali ini saya akan me- review game, Abzu. Abzu adalah game single player yang dibuat oleh developer bernama Giant Squid, dan dipublis oleh 505 Games. Game ini di"otaki" oleh art director dari game Journey. Game ini dirilis pada platform PS4, Xbox One, dan PC.

Plot dan Gameplay


Gameplay di game ini, berfokus pada interaksi dan eksplorasi terhadap objek laut. Mulai dengan mendekati segerombolan ikan agar mengiringi tokoh pada game ini, sampai berenang bersama lumba- lumba. Game ini benar benar sangat disarankan untuk dimainkan menggunakan kontroler. Walaupun bisa dimainkan dengan keyboard dan mouse, namun tetap saja kontrol terbaik dan efektif adalah kontroler untuk game- game seperti ini.

Game ini memiliki plot tentang sebuah mahluk berbentuk mirip manusia yang terbangun di tengah laut. Mahluk yang diposisikan sebagai tokoh utama/ karakter yang kita mainkan ini, harus menjalajahi lautan untuk megetahui asalnya dan apakah dia itu. Bagaimana kisahnya menjelajahi laut? Rintangan apa yang menghadapi? Silahkan mainkan gamenya di-platform yang anda pilih.

Review


Walaupun tidak ada dialog atau teks pada game ini yang menjelaskan tentang plot pada game ini. Namun naratif pada game ini disalurkan dengan baik melalui pengalaman dan perjalanan sang karakter yang terasa cukup dalam dan memiliki pesan moral yang sangat baik. Sebenarnya, pada game ini terdapat "mural" pada beberapa tempat yang mampu memperkaya naratif pada game, namun beberapa bagian terkadang tidak mudah untuk ditarik benang merahnya.

Visualisasi pada game ini sangat memanjakan mata. Bukan hal yang mengejutkan lagi mengingat art director pada game ini juga menangani game "The Journey", yang dikenal dengan stylized art-nya yang mempesona. Didukung dengan efek suara yang baik, game ini benar- benar menampilkan pengalaman menyelam dan penjelajahan laut yang sangat baik.


Segmen- segmen dimana penjelajahan mulai mencapai ke tempat yang sangat sulit dilakukan oleh manusia di dunia nyata, menjadi hal yang sangat menarik bagi kami. Daerah laut dalam sangat gelap, mengingat sinar matahari tidak dapat mencapai tempat tersebut, dan lainnya. Tidak hanya setting tempat, organisme dan ekosistem juga ditampilkan dengan cukup akurat. Seperti lumba- lumba pada laut lepas bagian permukaan, hingga paus dan cumi- cumi raksasa di daerah dalamnya.

Pengalaman gameplay juga didukung dengan sistem kontrol yang baik. Walaupun sangat dianjurkan menggunakan kontroler, penggunaan keyboard dan mouse tidak terasa buruk, dan mudah dikuasai, terutama bagi pemain yang sering menggunakan keyboard dan mouse saat memainkan game mereka.

Sayangnya game ini tidak memiliki konten yang cukup panjang (saya menyelesaikan game ini dalam waktu kurang dari 8 jam), namun tidak begitu masalah mengingat harganya terhitung terjangkau, terutama saat steam sale (saya membeli game ini saat autumn sale, dengan harga kurang dari Rp. 90.000,-).

Sebagai bonus, ini kompilasi klip gameplay kami pada resolusi 1366 x 768 (belum ada budget untuk Full HD monitor, mungkin tahun 2017) pada ultra setting.


Kesimpulan



Abzu adalah game eksplorasi dengan visual yang sangat memukau, naratif yang dalam dengan pesan yang sangat bagus. Sayangnya game ini memiliki naratif yang kurang cocok untuk pemain yang suka naratif dengan teks atau dialog. Dan konten di game ini tidak terlalu panjang membuat game ini terasa sedikit dirasa mahal jika dibeli saat tidak ada diskon.

Sabtu, 03 Desember 2016

Review The Happening


         Film keluaran tahun 2008 ini menarik perhatian saya, ketika menjadi film peringkat pertama top 200 pada ilfix (bukan sponsor). Film karya sutradara M. Night Shyamalan ini bergenre drama - horror- thriller.



Dilihat dari covernya, terlihat seperti film tentang kehancuran dunia. Dengan gambar langit yang menghitam dan mobil yang posisinya tidak beraturan terlihat seperti akhir dunia akan terjadi. Ya tapi sebenarnya jalan ceritanya tidak seperti itu.

Film ini menceritakan  Mark Wahlberg sebagai Elliot Moore dan istrinya Zooey Deshanel sebagai Alma Moore juga anak temannya  Ashlyn Sanchez sebagai Jess, dimana mereka harus menyelamatkan diri dari wabah aneh yang menyerang kota. Tidak jelas apa sumber wabah ini, entah virus, atau serangan teroris. Tapi yang pasti jika seseorang terserang wabah ini, maka orang tersebut akan berperilaku aneh dan bunuh diri dengan cara apapun.


REVIEW

                Jujur saya suka sama film ini, walaupun saya sedikit bingung sama review orang-orang tentang film ini yang rata-rata tidak suka dan memberi komentar negatif. Yang saya suka difilm ini adalah saya jamin sampai detik terakhir film ini anda tidak akan dapat memecahkan misteri dalam film ini, anda tidak akan menemukan jawaban apapun. Karena saya sendiri tidak menemukan jawaban, dan  itu membuat saya jadi penasaran.

                Saya sempat googling apa jawaban dari film ini, namun saya belum menemukan apa-apa. Saya sarankan anda harus menonton film ini, dan mungkin anda dapat menemukan jawabannya? Jadi, apa yang sebernarnya terjadi? 


note : iflix gratis sebulan pakai email baru

Rabu, 23 November 2016

Review Kickboxer: Vengeance


Kickboxer Vegeance adalah film seni beladiri yang di sutradarai oleh John Stockwell yang di distribusikan oleh RLJ Entertainment, dan di bintangi oleh Alain Moussi, Jean-Claude Van Damme (yang mungkin kalian ketahui dari film serial Kickboxer sebelumnya), Dave Bautista, Gina Carano, Georges St-Pierre, dan Darren Shahlavi. Film ini merupakan film reboot dari film serial kickboxer sebelumnya. Film tersebut telah rilis di bioskop pada tanggal 2 September 2016.

Sinopsis Film


Kurt Sloane (yang di perankan oleh Alain Moussi) pergi ke Thailand untuk balas dendam kepada Tong Po (yang diperankan oleh Dave Bautista), karena Tong Po telah membunuh sodara kandungnya saat bertarung dalam kompetisi ilegal di Thailand. Kurt dilatih oleh Durand (yang diperankan oleh Jean-Claude Van Damme) agar Kurt dapat berhadapan melawan Tong Po. pada saat Kurt telah siap untuk melawan Tong Po, Liu (yang diperankan oleh Sara Malakul Lane) menangkap Kurt dan Durand karena Liu tidak bertanggung jawab untuk mengawasi Kurt saat berada di Thailand.Tetapi Kurt kabur dari penjara dan langsung bergegas ke pertandingan untuk melawan Tong Po. Pada babak pertama Kurt hampir kalah dalam pertandingan tetapi Kurt dapat bertahan dan pada babak kedua pertandingan pun tambah sengit karena telah ditambahkan senjata yaitu pecahan beling yang di tusukkan pada sarung tangan mereka, Tong Po masih unggul dalam babak kedua sampai akhirnya di babak ketiga Kurt pub berhasil mengalahkan Tong Po dan berhasil membayar dendamnya sambil mengatakan "This is for Eric". Ending film penonton akan di hibur dengan jogetan Jean-Claude Van Damme pada film Kickboxer 1989 dan Alain Moussi meniru jogetannya.

Cast

  • Alain Moussi sebagai Kurt Sloane
  • Jean-Claude Van Damme sebagai Master Durand
  • Dave Batista sebagai Tong Po
  • Darren Shahlavi sebagai Eric Sloane
  • Gina Carano sebagai Marcia
  • Georges St-Pierre sebagai Kavi
  • Sara Malakul Lane sebagai Liu
  • Matthew Ziff sebagai Bronco
  • T.J. Storm sebagai Storm
  • Steven Swadling sebagai Joseph King
  • Sam Medina sebagai Crawford
  • Luis Da Silva sebagai Stahl
  • Cain Velasquez sebagai King's Fighter
  • Fabricio Werdum sebagai Fighter
  • Michel Qissi sebagai Prisoner (uncredited cameo)

Penggambaran Film


Pengambilan film di mulai pada tanggal 24 November 2014, di New Orleans dan Thailand. Pengambilan film pertama di ambil di New Orleans pada scene Dave Bautista dan Alain Moussi di pertandingan terakhir dikarenakan Dave Bautista diharuskan untuk pergi lebih awal untuk pengambilan scene di film James Bond: Spectre sebagai Mr. Hinx.
Setelah pengambilan scene di New Orleans selesai, aktor Darren Shahlavi yang berperan sebagai Eric Sloane meninggal dunia pada tanggal 14 Januari 2015 di umur 42 tahun. Demitri Logothetis berkata bahwa film ini akan di dedikasikan untuk memperingati Darren Shahlavi.


Review

Sangat di rekomendasikan bagi yang sangat menyukai film Action, cerita dengan alur maju mundur, seni bela diri muay thay, dan film ini berating 17+. Dengan rating 17+ yang pasti film ini bukan untuk anak-anak yang berumur dibawah 17 tahun kecuali dalam pengawasan orang dewasa. Film Kickboxer Vengeance  tidak cocok bagi yang tidak menyukai film action, darah, dan perkelahian.


Kesimpulan

Film ini merupakan cerita reboot dari serial film kickboxer yang dulu diperankan oleh Jean-Claude Van Damme sebagai Kurt Sloane pada tahun 1989, dan film Kickboxer vegeance 2016 masih diperkuat dengan Jean-Claude Van Damme sebagai master atau trainer Kurt Sloane.




Cocok untuk:
 + Yang suka film action
 + Yang suka perkelahian
 + Yang suka muay thai

Tidak cocok untuk:
 - 17 tahun kebawah
 - Takut darah
 - Emosi yang berlebihan