Jumat, 23 September 2016

Liyla and The Shadows Of War


Permainan berdasarkan kejadian sebenarnya, menceritakan kisah seorang gadis kecil hidup dalam perang.”

           Begitulah isi deskripsi game story dengan rating 4,6/5 versi google play store “LIYLA AND THE SHADOWS OF WAR”. Permainan dengan tema warna hitam dan abu-abu ini menceritakan bagaimana Liyla juga kedua orang tuanya sebagai tokoh utama bertahan hidup didaerah perang, dimana game ini dibuat untuk menggambarkan suasana kehidupan di Gaza, Palestina. 

                      “For best experience, play this game in a dark room with headphones on”

   
          Ya memang sangat disarankan ketika memainkan permainan ini menggunakan earphones atau headphones dengan volume tinggi, ditempat gelap, sendirian. Karena permainan ini akan membuat kita si pemain seakan berada pada situasi hidup didaerah perang. 


        Untuk level yang disajikan, memang tidak banyak. Tetapi permainan free ini patut, harus, wajib untuk dicoba. Pesan yang bisa saya ambil dari permainan ini adalah, bahwa kita harus banyak bersyukur dengan kehidupan kita yang sekarang.




http://liyla.org

Senin, 29 Agustus 2016

Lights Out || Jangan biarkan gelap menemani anda




     Setelah sukses dengan film Conjuring 2, James Wan beserta, Eric Heisserer, dan Lawrence Grey memproduksi sebuah film bergenre horor dengan durasi 1 jam 21 menit, dengan tanggal rilis 22 juli 2016.
     Film yang mempunyai rating 6.8/10 versi IMDb ini berkisah tentang sebuah keluarga dimana sang ibu memiliki masa kecil yang menyeramkan, yaitu tinggal disebuah rumah sakit jiwa dan disanalah ia bertemu dengan si hantu Lights Out, Diana. Diana sendiri diceritakan tidak bisa terkena cahaya karena kelainan penyakit sewaktu hidupnya.

 
     Diana ingin selalu bersama dengan si-ibu dari kecil hingga si ibu mempunyai keluarga, karena bagi Diana hanya ibu tersebut lah sahabat terbaiknya. Diana selalu berusaha menyingkirkan anggota keluarga yang lain karena ia hanya ingin berdua dengan si-ibu. dimulai dari iya membunuh suami si-ibu kemudian mengincar anak perempuannya Rebecca, lalu anak laki-lakinya Martin, kemudian pacar Rebecca, Bret karena laki-laki itu membantu Rebecca dan dianggap sebagai penganggu.



(catatan : ibunya tidak memiliki nama)

Review

     Menurut saya film lumayan menegangkan, dengan diawal film sudah disuguhkan hantu Diana.

    Dimana alurnya maju mundur, seperti ketika anak-anaknya mengungkap kebenaran ibunya, lalu ketika anak perempuannya teringat kembali dengan masa kecilnya yang diteror Diana sama seperti adik laki-lakinya.


    Di awal-awal belum tertebak ceritanya akan bagaimana, mulai memasuki pertengahan saya  bisa menebak ceritanya dan benar saja pemikiran saya sesuai dengan ceritanya. Agak sedikit mengecewakan sih ketika kita dapat menebak dengan benar cerita sebuah film sebelum film itu selesai, namun film ini tidak begitu buruk. Kemunculuan Diana yang tidak diduga-duga cukup menyeramkan, dan selalu parno ketika tidak ada cahaya.


Kamis, 04 Agustus 2016

Review Suicide Squad


Suicide Squad adalah film ketiga dari DCEU (DC Extended Universe) yang diproduksi oleh WB (Warner Bros). Film ini disutradarai oleh David Ayer, yang juga penulis skrip film ini. Film ini dirilis tanggal 3 Agustus 2016 untuk Indonesia.

Sebelumnya, DCEU belakangan ini menuai kontroversi di internet bagi para fans dan penikmat film. Jadi bagi yang tahu dan mengikuti, saya hanya menginformasikan bahwa saya penggemar Marvel dan DC. Dan saya hanya tahu sedikit tentang Suicide Squad. Jadi, bawa santai saja review ini, dan jika perlu tonton dan buat sendiri pendapat anda tentang film ini.

Latar Belakang dan Plot


Film ini terinspirasi dari serial komik dari DC dengan judul yang sama. Di film ini, Amanda Waller, seorang petinggi di departemen pertahanan AS, ingin membuat sebuah tim khusus untuk berjaga- jaga jika orang/mahluk seperti Superman muncul namun dengan niat dan tindakan yang buruk bagi dunia. Tim khusus ini dikenal dengan Task Force X (Gugus Tugas X) yang akan diberikan tugas- tugas yang hampir mustahil diselesaikan, yang nantinya diberi komentar oleh Deadshot sebagai tim dengan tugas "bunuh diri" (bunuh diri= suicide).


Task Force X ini beranggotakan Kolonel Rick Flag sebagai pemimpin dari tim yang sebagian besar adalah penjahat yang sudah dipasang bom kecil di leher mereka jika mereka berusaha lari dan melenceng dari tugas. Rick Flag, diteman Katana sebagai bodyguard jika anggota tim yang lain menyerang Rick. Sedangkan anggota yang lain adalah Deadshot, Harley Quinn, Captain Boomerang, Killer Croc, El Diablo, dan Slipknot. Lalu bagaiman tim yang berisikan para penjahat ini menghadapi tugas mustahil yang diberikan? Silahkan tonton filmnya di bioskop kesayangan anda.

Review


Film ini memiliki cita rasa yang berbeda jika dibanding 2 film DCEU sebelumnya. Film ini terasa lebih ceria dengan humor yang cukup baik. Harley Quinn membawa humor yang pas dengan penokohan pada karakternya yang sangat mirip dengan versi serial animasi dan komiknya. Karakter seperti Deadshot dan Katana memiliki latar belakang yang menyentuh. Dan Captain Boomerang diperankan sangat baik disini, walaupun cukup disayangkan tidak diberikan latar belakang yang cukup. Penampilan El Diablo sangat bagus, jadi, sebagian penampilan para aktor sangat baik di film ini.

Soundtrack yang dipakai sebagai backsound cukup bagus, walaupun ada momen dimana terkesan si editor lupa menghentikan/memotong soundtracknya walaupun adegannya sudah berpindah ke adegan yang lain. Adegan aksinya cukup bagus namun tidak berlebihan. Adegan aksinya sebenarnya cukup keras, namun tidak ada darah yang ditampilkan disini. Ada beberapa adegan yang cukup seksi, jadi tidak terlalu disarankan untuk anak kecil.


Plot tidak terlalu rumit dan bisa dengan mudah diikuti dengan side story dari Joker. Khusus untuk Joker, untuk saya pribadi, saya merasa sedikit aneh dengan hubungan antara Joker dengan Harley Quinn, namun tidak terlalu berdampak pada penilaian film yang cukup bisa saya nikmati. Film ini juga memiliki cameo dari beberapa anggota Justice League, dan juga ada post-credit scene, jadi jangan ninggalin bioskop jika belum lihat cuplikannya.

Kesimpulan

Suicide Squad adalah film ketiga dari DCEU yang memberikan cita rasa yang berbeda untuk kalangan dan lebih cocok untuk kalangan yang lebih luas. Film ini layak ditonton, terutama bagi yang ingin tahu kelanjutan DCEU, atau yang ingin merasakan cita rasa yang lebih ceria dibanding 2 film sebelumnya. Walaupun begitu, film ini memiliki beberapa masalah, namun ada peningkatan kualitas dari film sebelumnya.


+ Penokohan yang cukup baik untuk beberapa tokoh utama.
+ Cerita yang tidak serumit film sebelumnya.
+ Humor yang klop dengan film.


- Beberapa bagian terasa kurang tersentuh oleh editor.
- Tidak cocok untuk yang tidak suka cameo dari boneka unicorn.
- Tidak suka cerita dari DC Comic.

Senin, 11 Juli 2016

Review Dream Machine: The Game - Game Puzzle Unik Untuk Smartphone


Kali ini saya akan mereview game android bernama Dream Machine. Dream Machine merupakan game untuk smartphone android dan IOS, hasil kolaborasi dari GameDigits dan Red Kite Games dari UK. Game ini dapat dibeli di Google Playstore sekitar Rp. 15.000,-. Game ini sebenarnya sudah dirilis pada bulan Maret 2016, tapi tetap menarik bagi penulis untuk mereview game ini.

Bagi yang sudah lama berkecimpung di dunia gaming smartphone, mungkin akan berpikir bahwa game ini mirip dengan Monument Valley. Yap, game ini mengambil desain tampilan yang mirip, tetapi lebih baik jika anda mencobanya terlebih dahulu, apalagi game ini tidak ada yang namanya in app products (konten berbayar di dalam game) atau DLC.

Plot



Game ini bercerita tentang sebuah robot yang melawan norma dan aturan yang berlaku pada tempatnya. Pada perjalanannya, dia akan menemukan alat alat yang tidak biasa dan beberapa bos. Plotnya simpel dan tidak memiliki dialog, cukup berbeda dengan Monument Valley.

Gameplay






Mekanik game ini cukup simpel, yaitu membawa sang karakter utama dari poin A ke poin B. Game ini memiliki mekanik/ cara bermain yang bercita rasa berbeda dengan Monument Valley. Jika Monument Valley memiliki mekanik sentuh untuk bergerak, di game ini justru sebaliknya, yaitu sentuh untuk berhenti. Di game ini karakter yang dimainkan juga bisa mati. Seperti di salah satu level di chapter 2, dimana terdapat pisau pada level tersebut, yang mana jika pemain gagal mengerti cara kerjanya, saat si robot menyentuh pisau maka si robot akan mati.


Di game ini juga terdapat boss battle. Yang mana menurut saya merupakan daya tarik utama, dan pembeda dengan game sejenis. Desain karakter, dan levelnya sangat menarik, dan mekanik pada boss battle cukup bervariasi pada tiap boss battle.

Game ini juga memiliki sistem level up untuk karakter yang dimainkan, yang mana akan mengupgrade kecepatan jalan dan nyawa untuk si karakter. Sayangnya, sistem upgrade ini berasa tidak diperlukan atau mempengaruhi gameplay sama sekali. Kontrol pada tuas yang harus diputar, terkadang sedikit kurang nyaman, atau mungkin hanya jari penulis yang kurang cocok pada layar smartphone yang dipakai.

Kesimpulan

Dream Machine: The Game, merupakan game puzzle isometrik yang terinspirasi dengan karya pelukis Escher. Game ini memiliki visual, dan gameplay yang menarik yang membuatnya terasa berbeda dengan game yang serupa. Game ini dibandrol dengan harga sekitar Rp 15.000,- yang mana dirasa cukup pantas dengan isi yang ditawarkan, terutama jika dibandingkan dengan Monument Valley tanpa DLC ( Rp 15.000,- untuk 20 level vs Rp 46.000,- untuk 10 level).


+ Desain level yang menarik.
+ Boss battle.
+ Harga yang cukup layak dengan isinya.
+ Cocok untuk yang menggemari game puzzle dengan boss battle.

- Tidak cocok untuk yang tidak suka game puzzle.

Senin, 27 Juni 2016

Review Finding Dory ( Mencari Dory)


Kali ini kita akan me-review Finding Dory, atau lebih spesifiknya Mencari Dory -versi berbahasa Indonesia dari Finding Dory- yang di-dubbing oleh pengisi suara Indonesia. Finding Dory adalah film animasi buatan studio animasi Pixar, yang merupakan sekuel dari Finding Nemo. Film ini dirilis pada tanggal 17 Juni 2016. 

  

Piper

Sebelum membahas Finding Dory, kami akan memberitahukan bahwa Pixar memberikan film animasi pendek bernama Piper, sebelum Finding Dory dimulai. Film pendek menceritakan kisah pendek seekor burung kecil yang hidup di pantai. Film ini tidak memuat dialog apapun ( tidak dengan bahasa manusia jikapun ada). Animasi yang halus dengan tampilan yang memukau, sangat sesuai dengan cerita sedehana yang sedang diceritakan.


Plot

Film ini berpusat pada perjalanan Dory mencari orang tuanya. Memang terkesan membuat judul tidak relevan/cocok dengan cerita. Namun kisah mencari Dory yang terpampang pada judul, bisa diartikan sebagai pencarian jati diri Dory. Kita akan dibawa kepada kisah tentang betapa sulitnya bagi Dory untuk mengingat keluarganya, bahkan namanya tidak ingat. Dengan hanya sedikit yang mampu diingat, Dory, Marlin, dan Nemo harus melintasi samudra lagi untuk menemukan kedua orang tua Dory. Apakah mereka berhasil? Apakah Dory mampu mengingat kembali semua yang dia lupakan? Tontonlah filmnya untuk mengetahui jawabannya, di bioskop kesayangan anda.




Review

Setelah Cars 2, dimana banyak yang beropini Pixar kehilangan cerita berasa "Toy Story" ( yang mana menurut saya, tidak sepenuhnya benar). Finding Dory, membawa cita rasa "Toy Story" yang banyak orang minta. Cerita di Finding Dory cukup banyak memperlihatkan adegan di seri sebelumnya, terutama di bagian awal. Namun, tidak membuat cerita di film ini berfokus pada kejadian di film sebelumnya. Cerita dan pesan moral yang disampaikan, cocok untuk segala umur. Jadi rada sulit untuk mengerti jika kejadian penangkapan ikan liar secara skala besar terulang lagi. Terutama, jenis ikan yang menjadi tokoh penting di film ini, habitatnya berada di laut tropis, seperti Indonesia.

Dengan seting tempat dan dasar cerita yang sebenarnya cukup suram, pembawaannya cukup baik untuk ditonton anak kecil dan disaat yang bersamaan membawa kesan nostalgia bagi yang menonton Finding Nemo bertahun tahun yang lalu.



Voice acting khusus berbahasa Indonesia, dirasa cukup baik. Dengan pengisi suara (yang sepertinya) sama dengan Finding Nemo, khususnya untuk karakter yang muncul kembali.

Kesimpulan

Finding Dory adalah sekuel dari Finding Nemo, yang layak ditunggu. Sensasi nostalgia, dan cerita yang emosional sangat cocok yang 10 tahun yang lalu menonton Finding Nemo. Film ini juga cocok untuk yang tidak menonton seri sebelumnya, karena ceritanya tidak menitik beratkan pada kejadian di seri sebelumnya.



+ Plot emosional ala Pixar.
+ Tampilan dan animasi yang tetap menawan.
+ Piper.
+ Pengisi suara bahas Indonesia yang cukup baik.
+ Kisah yang mendidik yang cocok untuk segala umur.


- Dory mungkin lupa dengan kisahnya sendiri.
- Tidak cocok untuk yang tidak suka kartun/animasi, dan cerita emosional ala Pixar.

Selasa, 31 Mei 2016

Review X- Men: Apocalypse


X- Men: Apocalypse adalah seri ke 9 dari seri film X- Men. Film ini bersetting waktu di tahun 80-an, atau 10 tahun setelah kejadian di seri sebelumnya ( X- Men: Days of Future Past). Beberap karakter dari seri- seri sebelumnya (X- Men: First Class dan X- Men: Days of Future Past), juga kembali ditambah dengan karakter baru. Film ini disutradarai oleh Bryan Singer, yang juga sempat menyutradarai beberapa film X- Men sebelumnya.

Plot

Film ini menceritakan kelanjutan dari X- Men Days of Future Past. Dimana semua (atau sebagian) kejadian setelah film tersebut berubah menjadi berbeda dari yang sudah diketahui. Film ini diawali dengan flashback ke zaman Mesir kuno dimana seorang mutan dengan nama En Sabah Nur - mutan dengan kemampuan untuk memindahkan alam sadarnya ke tubuh mutan lain untuk mengambil kekuatannya atau memperpanjang umur- yang dikudeta saat melakukan ritualnya, yang mengakibatkan dirinya "tidur panjang" selama ribuan tahun. "Terbangun" fi tahun 80-an, En Sabah Nur kembali ingin mewujudkan impiannya menguasai dunia. Bagaimana X- Men menghentikannya? Silahkan menonton filmnya untuk mengetahuinya.

Review


Film ini sebenarnya punya dasar cerita yang cukup solid. Sayangnya, sang musuh utama, Apocalypse ( walaupun tidak pernah dipanggil dengan sebutan ini) gagal memunculkan bahwa dia, mutan pertama dan terkuat di bumi dapat menghancurkan bumi. Plot yang digadang akan menghancurkan seluruh permukaan bumi gagal diperlihatkan ( atau hanya sebagian kecil dari bumi yang diperlihatkan kehancurannya). Timeline di franchise milik Fox ini juga cukup membingungkan. Walaupun setting waktu kejadiannya ditampilkan cukup jelas, namun tampilan karakter kurang mendukung. Beberapa karakter cenderung terlihat lebih muda, yang mana seharusnya terlihat 10 tahun lebih tua.

Walau begitu, pemeran- pemeran baru disini berhasil memerankan karakternya cukup baik. Spesial efek yang dimunculkan juga sangat memanjakan mata, ditambah kostum 4 Horsemen dan anggota X- Men mulai mengikuti komik ( good bye, kostum bertema hitam dari beberapa seri sebelumnya).

Beberapa adegan ( scene) sangat epik dan menghibur. Seperti, dimana Quicksilver beraksi ( mirip dengan di X- Men: Days of Future Past), dan..... cameo Wolverine yang cukup tidak terduga ( walaupun sempat dibocorkan lewat trailer terakhir). Seperti film- film Marvel lainnya, film ini juga menyimpan post- credit scene yang kemungkinan memberi petunjuk tentang musuh utama di film Wolverine 3.

Kesimpulan

X-Men: Apocalypse adalah sekuel dari X-Men: Days of Future Past, yang dirasa tidak terlalu buruk untuk ditunggu dan di tonton. Walaupun timeline cerita cukup membingungkan, terutama saat disambungkan denga Deadpool. Namun, tidak terlalu buruk bila dibandingkan dengan X-Men: Wolverine Origin. Set up untuk film selanjutnya cukup baik, walaupun sepertinya akan memperumit timeline yang sudah rumit.


+ Weapon X is very bada**.
+ Adegan Quicksilver yang epik.
+ Kostum mulai mengikuti versi komiknya.
+ Teaser untuk Wolverine 3.


- Apocalypse, tidak melakukan apokalips.
- Tidak cocok untuk yang bukan penggemar X-Men.

Review Captain America: Civil War


Captain America: Civil War merupakan seri ketiga dari seri film Captain America dari Marvel. Film yang merupakan bagian dari phase 3 dari  Marvel Cinematic Universe ( MCU), merupakan salah satu film MCU tersukses saat ini. Bahkan, salah satu film superhero terbaik sampai saat ini (walaupun secara pribadi, Deadpool lebih baik). Film ini disutradarai oleh Russo Brothers.

Latar Belakang



Film yang terinspirasi oleh komik Marvel dengan judul yang "sama" ( Civil War) ini, dilatar belakangi dengan keinginan pemerintah- pemerintah di seluruh dunia untuk membatasi kewenangan dan gerak Avenger, yang selalu berkesan destruktif. Dengan dimintanya Avenger menyetujui Perjanjian Sokovia ( Sokovia Accords) - yang mana memberi PBB pengawasan terhadap apa yang akan/ telah dilakukan oleh Avenger- berhasil memecah belah tim. Tony ( Iron Man), setuju dengan perjanjian tersebut, terutama setelah dia menyadari efek dari beberapa kejadian sebelumnya bagi warga sipil.. Sedangkan Steve ( Captain America), tidak setuju karena dianggap akan mengahambat mereka untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan.

Dengan terpecahnya tim menjadi dua, terjadilah konflik dimana pemerintah ( dengan bantuin Tony dan pedukungnya) ingin menangkap Winter Soldier ( Bucky), yang mana menurut Captain, Bucky masih bisa diselamatkan, dan apa yang telah dilakukannya bukanlah kesalahannya. Bagaimana akhirnya? Silahkan tonton filmnya untuk mengetahui.

Review




Film ini memiliki komposisi adegan yang cukup mengesankan. Mengingat banyaknya tokoh superhero yang dimuat di dalamnya. Tokoh- tokoh yang baru masuk ke dalam MCU ( Spiderman dan Black Panther), diperankan sangat bagus, terutama Spiderman yang mana cukup banyak bicara saat beraksi layaknya Spiderman pada versi komiknya. Karakter Black Panther juga sangat baik ditampilkan dalam film ini.

Adegan aksinya sangat didukung oleh tampilan spesial efek yang cukup baik. Film ini memiliki banyak adegan epik yang ( saya yakin) membuat para fans marvel senang. Adegan di bandara membuktikan kemampuan Russo Brothers dan Marvel menangani tantangan dari banyaknya superhero yang harus ditangani. Berita baiknya, tidak hanya memberikan adegan yang baik, mereka memberikan dialog dan screen time yang pantas bagi setiap tokohnya.



Cerita di film ini cukup solid, dengan candaan yang berada pada waktu yang tepat dan tidak terlalu banyak. Seperti biasa film ini memiliki post- credit scene, dan juga mid- credit scene. Jadi, jangan lewatkan petunjuk tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kesimpulan

Captain America: Civil War adalah seri terbaru dari Marvel Cinematic Universe, yang sangat layak ditonton. Aksi superhero, dan plot yang ditampilkan sangat layak ditonton. Didukung dengan casting yang cocok dengan karakter yang diusung.


+ Cerita yang solid, dan adegan pertempuran yang epik.
+ Character justice.
+ Kualitas film tetap terjaga dibanding film sebelumnya ( Captain America: The Winter Soldier).


- Tidak cocok untuk yang membenci Marvel.